KEBUMEN - Yayasan Saka Tunggal Bersinar ditunjuk sebagai pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kebumen. Yayasan tersebut bakal mengoperasikan empat dapur sehat atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mencukupi kebutuhan MBG.
Lokasi SPPG yang dikelola yayasan tersebut tercatat berada di Kecamatan Kebumen, Prembun, Gombong dan Klirong. Adapun untuk kemampuan kapasitas dapur mampu mencukupi sedikitnya 2.500 porsi paket makanan setiap hari. "Kami dorong untuk maksimal. Semoga ke depan dapur bisa tambah," kata Pengurus Yayasan Saka Tunggal Bersinar, Daryani, Selasa (18/2).
Daryani menjelaskan, kepercayaan untuk mengelola SPPG tentu tidak mudah, apalagi program MBG ini bertujuan untuk mencapai ketercukupan gizi yang berlaku dalam target. Selain itu, sasaran penerima manfaat juga sudah ditentukan, mulai dari anak sekolah, balita, ibu hamil dan menyusui. "Datanya sudah lengkap, kami tinggal melaksanakan saja," jelasnya.
Sebelumnya, pada 13 Februari 2025 Badan Gizi Nasional (BGN) telah menunjuk empat kepala SPPG di Kebumen berdasar surat tugas Nomor : SGAS.26/03.02/01/2025. Kepala SPPG ini akan memimpin pelaksanaan operasional di setiap unit kerja. Selain itu, ditugaskan untuk melaksanakan pencacahan serta pembaruan data penerima manfaat dari program MBG.
Daryani memastikan dalam program MBG ini akan mengandalkan hasil pertanian di Kebumen. Pihaknya akan melibatkan para petani lokal untuk mencukupi kebutuhan bahan baku selama pelaksanan MBG. "Kami lewat petani lokal yang dikelola suplier perwakilan," katanya.
Ketua Asosiasi UKM Kebumen Setyo Widodo telah lama memprediksi, pelaksanaan MBG akan dirasakan hanya segelintir pengusaha dengan sistem padat modal. Para pelaku UMKM akan sulit mengakses program tersebut karena terkendala teknis serta kemampuan modal. "Harus mikir keras, modalnya sudah besar. Duit dari mana," ucapnya.
Mestinya, kata dia, semangat pelaksanaan program MBG ini dapat dirasakan manfaatnya oleh kalangan pelaku UMKM. Keterlibatan pelaku usaha kecil dalam program tersebut sebenarnya sangat dinanti agar menjadi penggerak perekonomian masyarakat. "Dari awal sudah tidak yakin bisa ikut. Ya karena banyak faktor," jelas Setyo. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo