MAGELANG - Ribuan warga dari berbagai daerah tumpah ruah memadati kawasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio Kota Magelang. Mereka rela berdesak-desakan demi menyaksikan kirab Cap Go Meh. Tidak hanya atraksi barongsai dan liong, kirab ini juga dimeriahkan oleh kesenian tradisional.
Perayaan ini menjadi simbol toleransi beragama di Kota Magelang sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2576/2025. Kirab tersebut diadakan pada Sabtu (15/2/2025) dan dimulai sekitar pukul 10.05 yang berpusat di TITD Liong Hok Bio.
Barisan paskibra mengawali kirab. Disusul oleh rombongan yang membawa lambang burung Garuda. Kemudian, dilanjutkan dengan drumband Genderang Suling Canka Lokananta (GSCL) Taruna Akademi Militer (Akmil) Magelang. Selain itu, juga ada liong samsi, barongsai, topeng ireng, kubro siswo, reog Ponorogo, soreng, dan kesenian lainnya.
Kirab yang diikuti sekitar 1.500 orang itu berjalan dan melakukan atraksi di sepanjang Jalan Pemuda. Di sepanjang kompleks pertokoan Pecinan, barongsai akan mengambil angpau yang digantung. Atraksi itu praktis menyedot perhatian warga dan tak lupa mengabadikannya.
Kemudian, peserta kirab menyusuri Jalan Mataram hingga ke Jalan Sriwijaya. Barulah belok kanan menuju Jalan Majapahit, Jalan Kalingga, dan kembali ke kelenteng. Dengan jarak tempuh sekitar 2,5 kilometer.
Wakil Ketua Harian TITD Liong Hok Bio Kota Magelang Gunawan menjelaskan, Cap Go Meh biasanya diselenggarakan setiap hari ke-15 pada bulan pertama berdasarkan penanggalan China. Sebelum kirab, warga Tionghoa melakukan sembahyang di kelenteng.
Kirab ini, kata dia, menjadi salah satu agenda rutin tahunan yang digelar untuk merayakan Cap Go Meh. Membawa barongsai dan liong untuk berkeliling kota diyakini dapat membawa berkah, kesehatan, kerukunan, dan rezeki yang melimpah.
Selain barongsai dan liong, kirab tersebut juga melibatkan berbagai macam kesenian tradisional dari kota dan Kabupaten Magelang. "Ada topeng ireng, jatilan, kuda lumping, rampak macan, reog Ponorogo, buto gimbal, warok, soreng, kubro siswo, dan jathilan," paparnya.
Dengan begitu, perayaan ini tidak semata diperuntukkan warga Tionghoa, tapi juga etnis lain. Sebetulnya, umat Tri Dharma sudah mengawali rangkaian perayaan Cap Go Meh pada Rabu malam (12/2). Malam itu langit Kota Magelang dipenuhi dengan kembang api.
Gunawan menambahkan, agar kirab semakin semarak, ada barongsai yang mengambil angpau di pertokoan. Kegiatan itu sebagai wujud rasa syukur dari warga Tionghoa. "Kami berterima kasih atas rezeki yang telah diterima selama setahun kemarin," ucapnya.
Tradisi pengambilan angpao ini sebetulnya sudah berjalan sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu dan menjadi ritual bagi etnis Tionghoa saat perayaan Cap Go Meh. "Di tahun ular kayu ini, harapannya rezeki akan semakin melimpah," imbuhnya.
Pemilik toko di Jalan Pemuda Atep mengaku sengaja memasang angpao di depan tokonya untuk memberikan sedekah bagi pemain barongsai. "Maknanya sedekah. Kami memang rutin memberikan angpau saat ada perayaan Cap Go Meh," lontarnya. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin