MUNGKID - Pagar pembatas antara area Museum dan Kampung Seni Borobudur dengan rumah warga ambruk gegara hujan deras pada Rabu siang (29/1). Melihat kondisi tersebut, pelaksana proyek pun bergegas untuk memperbaikinya karena masih dalam tahap pemeliharaan.
Warga Borobudur Muhammad Zulianto mengatakan, hujan dengan intensitas tinggi pada Rabu siang (29/1) membuat pagar pembatas ambruk. "(Pagarnya) sudah ndoyong-ndoyong. Pondasinya juga sudah retak," bebernya di lokasi, Kamis (30/1).
Baca Juga: Wujudkan Magelang Anyar Gress, Bupati-Wakil Bupati Terpilih Kritisi Perihal Data Yang Belum Rapi
Selain itu, dia menilai, tanah yang digunakan sebagai fondasi tersebut tampak labil. Sehingga memicu keretakan fondasi dengan panjang sekitar 20 hingga 30 meter. Jika fondasinya tidak diperkuat lagi, dikhawatirkan bakal semakin parah saat hujan deras.
Zulianto menyebut, ambruknya pagar pembatas itu baru kali pertama terjadi. Mengingat retakan tanahnya cukup parah seiring derasnya air hujan. "(Panjang pagar yang ambruk) sekitar 5 meteran, mungkin bisa diperbaiki lagi," lontarnya.
Baca Juga: Refleksi Kebudayaan Arkipelagis: Ekspresi Perayaan Seniman dan Budayawan Atas Kementerian Kebudayaan Baru dan Sebagai Wadah Gagasan
Dia khawatir, ketika hujan deras, airnya akan mengalir ke bawah mengenai rumah warga. Sebelum dibangun Kampung Seni Borobudur, kata dia, area itu merupakan tanah lapang yang bisa menyerap air hujan. "Kalau sekarang sudah diuruk sehingga banyak titik yang akan tergenang air," imbuh dia.
Sementara itu, Direktur Taman Wisata Borobudur (TWB) Mardijono Nugroho menambahkan, ambruknya pagar itu masih menjadi tanggung jawab dari Kementerian Pekerjaan Umum. "Ini masih pemeliharaan, biar nanti segera diperbaiki," sebutnya. (aya)