MAGELANG - Program makan bergizi gratis (MBG) di Magelang telah berlangsung selama sepekan. Pelaksanaan program itu berimbas pada menurunnya omzet dari pengelola kantin sekolah. Bahkan, penurunannya berkisar antara 50 hingga 60 persen. Sebelum itu, banyak siswa yang akan memberi nasi maupun jajanan di kantin sekolah.
Di Magelang, program MBG menyasar 16 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari TK hingga SMA. Dengan radius 1 hingga 1,5 kilometer (km) dari dapur umum yang berada di kantor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Magelang. Setiap hari, tim dari SPPG akan mengirim paket makanan ke sekolah-sekolah tersebut.
Meski program itu berjalan lancar, namun pengelola kantin merasakan perubahannya. Sebelum program tersebut bergulir, pengelola kantin bisa meraup Rp 400 ribu - Rp 500 ribu per hari. "Kalau ditanya soal dampak dari program itu, kami sebagai pengelola kantin jelas ada penurunan pendapatan atau omzet antara 50 sampai 60 persen," kata pengelola kantin di SDN Jurangombo 4, Choirun, Selasa (14/1).
Dengan anjloknya omzet itu, hanya mendapatkan penghasilkan kotor sebesar Rp 200 ribu - Rp 250 ribu per hari. Sebelum program tersebut dilaksanakan, kantin menjadi satu-satunya pilihan siswa untuk membeli makanan. Praktis banyak orang tua siswa maupun warga setempat yang menitipkan makanan, terutama nasi di kantin sekolah.
Terlebih, kata dia, Kota Magelang sudah menerapkan kebijakan lima hari sekolah. Sehingga tidak sedikit siswa yang membeli nasi di kantin saat orang tuanya tidak membawakan bekal. Biasanya, saat jam istirahat pertama atau pukul 09.20, siswa akan berburu makan dan jajanan di kantinnya. Ketika jam istirahat kedua, siswa lebih senang untuk bermain di lapangan.
Dia mengaku, pemberlakuan program MBG itu terasa sangat berdampak baginya. Namun, mengingat MBG merupakan program nasional, dia pun berusaha menyesuaikan. Termasuk mengurangi aneka jajanan. "Saya minta satu minggu libur dulu. Kemarin Senin, baru ada yang nitipin (nasi) lagi. Itu pun jumlahnya berkurang, dari yang awalnya 25 bungkus habis, kemarin tujuh bungkus saja nggak habis," sebutnya.
Kendati begitu, dia bersyukur, masih ada siswa yang memberi jajanan di kantinnya. Yang semula membeli nasi, mereka akan menggantinya dengan jajanan ringan. "Anak-anak tetap jajan, yang biasanya beli makanan berat, otomatis tidak. Apalagi siang itu wali siswa banyak yang nyusuli bekal makan siang," sambungnya.
Sementara itu, Kepala SDN Jurangombo 4 Cicilia Martina Susanti mengakui, program MBG berdampak terhadap omzet kantin. Sebab, siswa yang biasa membeli nasi saat jam istirahat pertama, kini sudah tidak lagi membelinya. "Kalau omzet (pengelola kantin) jelas ada pengurangan. Mereka rata-rata sudah sarapan, mungkin beli jajan yang ringan-ringan saja," paparnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo