MUNGKID - Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur menghelat sebuah pameran arsitektur vernakular yang terdapat di kawasan Borobudur.
Selain itu, pameran tersebut juga menyajikan aneka potensi di 20 desa di Borobudur dan tiga desa di sekitarnya.
Keberadaan Candi Borobudur tidak hanya fokus pada fisik candi, tetapi ada atribut lain yang harus dilestarikan.
Dalam atribut ketiga, disebutkan mengenai lanskap budaya Borobudur yang terdiri dari unsur-unsur lingkungan alam dan budaya masyarakat.
Termasuk pedesaan, kehidupan tradisional, dan pertanian. Salah satu elemen lanskap budaya di kawasan Borobudur adalah arsitektur vernakularnya.
Penanggungjawab Pameran Dian Eka Puspitasari mengatakan, arsitektur vernakular itu merupakan sebuah gaya arsitektur bangunan yang hadir sesuai tradisi lokal.
Kemudian, menggunakan bahan bangunan lokal dan teknik konstruksi tradisional, serta budaya, dan lingkungan setempat.
Dalam pameran ini, visualisasi bangunan aristektur vernakular yang dihadirkan adalah limasan yakni sebuah rumah tradisional Jawa yang
memiliki ciri khas atap berbentuk limas dengan empat sisi segitiga sama kaki.
Rumah ini merupakan warisan budaya yang dapat mencerminkan keberagaman masyarakatnya, sekaligus sosial budayanya.
Dian mengatakan, pameran ini digelar mulai 11-17 November dengan tujuan untuk mengingatkan kembali rumah limasan kepada masyarakat luas, khususnya di kawasan Borobudur.
"Bahwa limasan adalah bangunan yang harus terus-menerus dilestarikan sebagai indentitas diri masyarakat. Sekaligus bentuk edukasi pada publik, khususnya anak muda," terangnya, Selasa (12/11/2024).
Pameran bertajuk 'Pameran Arsitektur Vernakular dan Potensi Desa Borobudur; Srawung Omah Ora Wedi Obah; Lestarikan Budaya, Rangkul Masa Depan' ini menggandeng 23 desa di Borobudur dan sekitarnya.
Agar menyajikan beragam potensi desa, seperti kuliner, kriya, dan seni.
Hal itu sebagai gambaran adat dan budaya kehidupan masyarakat sehari-hari yang menghidupkan keberadaan rumah limasan.
Gelaran ini diawali dengan prosesi berdoa yang terdiri dari 3 bagian, yaitu larakan atau prosesi awal sebelum pembangunan yang bertujuan untuk meminta izin kepada Tuhan dalam membangun rumah, memohon keselamatan, dan kelancaran.
Lalu, dilanjutkan dengan dua kali doa slametan. Seluruh prosesi ini dilakukan sebagai bentuk dokumentasi pengetahuan yang komprehensif atas pameran ini.
Dia menjelaskan, pameran ini juga digelar dengan berbagai kegiatan. Seperti workshop kreatif yang memanfaatkan material alam dan barang bekas, sehingga menjadi mainan maupun pajangan.
Workshop ini difasilitasi oleh kreator desa dengan target peserta adalah siswa sekolah dari 11 sekolah di kawasan Borobudur.
Kemudian, lanjut dia, ada jagongan warga yang dikemas dalam kegiatan talkshow.
Kegiatan itu dilakukan lima kali yang membahas tuntas dua topik utama berkaitan dengan arsitektur vernakular dan potensi desa untuk menjadi magnet pariwisata berkelanjutan.
Terakhir, ada pertunjukan kesenian rakyat dan tari kreasi dari tujuh kelompok kesenian dan sembilan kelompok tari kreasi.
Dian menambahkan, pameran ini sengaja digelar di Situs Brongsongan, Wringinputih sebagai upaya untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa ada sebuah situs cagar budaya bertaraf nasional. (aya)
Editor : Winda Atika Ira Puspita