Banyak kisah menarik di setiap perjalanannya.
Bahkan, di tengah gempuran budaya timur dan barat, komunitas ini tetap melestarikan nilai-nilai seni dan kearifan lokal. Bagaimana perjalanannya?
Magelang dikelilingi oleh lima gunung. Di setiap lerengnya, bersemayam para seniman --benar-benar seniman yang cinta akan seni.
Bagi mereka, seni adalah sumber kehidupan. Mereka semangat untuk menghidupi seni di tengah pekerjaan yang dilakoni sehari-hari. Sebab seni adalah jiwa mereka.
Kebanyakan dari mereka merupakan seorang pedagang, pelukis, hingga petani. Baik petani padi, jagung, cabai, hingga kubis.
Dari hasil cucuran keringat itu, mereka bisa melangsungkan pagelaran seni dan budaya secara mandiri.
Tanpa bantuan dan campur tangan pihak lain. Pun tanpa sponsor dari instansi tertentu. Karena kesenian memiliki nilai tersendiri.
Para seniman itu tergabung dalam Komunitas Lima Gunung.
Dari komunitas itulah, para seniman mengekspresikan seni secara manasuka.
Bebas tanpa pengaruh dari luar. Mereka seolah tutup mata terhadap jumlah penontonnya.
Mau banyak, atau sedikit, tidak masalah. Karena bagi mereka, tak ada paksaan dalam berkesenian.
Komunitas ini diprakarsai oleh budayawan Sutanto Mendut, pemilik Studio Mendut, Mungkid. Yang kini didapuk menjadi Presiden Komunitas Lima Gunung.
Kala itu, seniman yang ikut dalam komunitas tersebut hanya segelintir orang. Perwakilan dari kawasan lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, dan Perbukitan Menoreh.
Ketua Komunitas Lima Gunung Sujono Keron menceritakan, sebetulnya, sebelum memulai debutnya, ada festival yang bertajuk Jagad Jawa.
Tujuannya sama, yaitu untuk memupuk dan merawat seni budaya di Kabupaten Magelang. Hanya saja, tidak bertahan lama.
Lantas, para seniman memulai obrolan santai di Studio Mendut.
Singkat kata, terbentuklah sebuah festival yang diberi nama Festival Lima Gunung pada 23 tahun yang lalu, tepatnya pada 2002.
Festival itu menjadi wadah bagi para tokoh seniman di lereng lima gunung.
"Di situ banyak tokoh seni rakyat. Pertama itu (festival) diadakan pada 2002 di Parangan, Pakis," ujarnya di Dusun Keron, Krogowanan, Sawangan, Minggu (29/9/2024).
Sutanto aktif menyambangi dusun ke dusun. Menggandeng para komunitas seni untuk unjuk gigi dalam sebuah pentas kesenian.
Lambat laun, banyak yang merespons positif. Karena keberadaan festival itu secara tidak langsung dapat menjadi wadah para pelaku seni untuk menuangkan ekspresinya.
Di satu sisi, Sujono menyebut, Komunitas Lima Gunung mendidik para seniman menjadi mandiri.
Karena sejak awal, prinsip terbentuknya komunitas itu adalah membentuk kemandirian.
Tidak diperkenankan mencari sponsor dalam segala kegiatannya. Termasuk Festival Lima Gunung yang diselenggarakan berdasarkan swadaya masyarakat setempat.
Meski sudah berusia 23 tahun, Festival Lima Gunung masih eksis di tengah masyarakat.
Bahkan, penontonnya tidak hanya berasal dari daerah setempat, tapi juga luar daerah.
"Di Komunitas Lima Gunung kan mendidik untuk mandiri. Bagaimana kita merespons nuansa panggung atau pameran dengan memanfaatkan bahan baku yang ada. Seperti jerami maupun lainnya. Intinya semampu kita karena berkesenian tidak harus mahal," sebutnya.
Justru itulah yang menjadi pembeda dengan komunitas lain. Bagi mereka, melangsungkan pentas di manapun dan kapanpun, sudah hal yang lumrah.
Di tepi sungai maupun lereng gunung, tidak masalah. Hal itu sebagai pengingat bahwa berkesenian tidak melulu berada di dalam gedung mewah.
Tetapi bisa di mana saja. Yang terpenting, esensi dari kegiatan itu tidak luntur.
Bahkan, tak sedikit seniman dari luar Magelang yang turut berpartisipasi pada gelaran yang diadakan komunitas tersebut.
Beberapa dari mereka justru tertarik dengan manajemen Komunitas Lima Gunung.
Karena tidak ada yang bisa meniru bagaimana komunitas itu berjalan.
Sujono sendiri tidak tahu pasti jumlah kepesertaannya. Hanya mengalir dan terbuka untuk siapapun.
Tahun ini, gelaran Festival Lima Gunung mengusung tema 'Wolak-waliking Jaman Kelakone' yang dilangsungkan di lapangan Dusun Keron, Krogowanan, Sawangan pada 25-29 September 2024.
Tema tersebut sebagai refleksi warga komunitas atas peristiwa aktual yang dihadapi warga akhir-akhir ini.
Sekaligus pancaran proyeksi nilai-nilai untuk harapan lebih baik atas masa depan kehidupan manusia serta kondisi sosial lingkungan.
Festival tersebut berlangsung selama lima hari berturut-turut.
Kegiatan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya digelar selama tiga hari.
Sebab, para peserta yang ingin berpartisipasi, membludak. Pendaftarnya hampir 200 peserta. Namun akhirnya dibatasi menjadi 130-an peserta.
Para peserta itu berasal dari berbagai daerah. Seperti Kedu, Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Malang, Bali, Indramayu, Cikampek, Jakarta, Lumajang, Bogor, dan Bulukumba.
Bahkan, ada kelompok kesenian dari Malaysia dan Meksiko. Mereka menghadirkan berbagai pementasan seperti tari tradisional, tari modern, tari kontemporer, musik, kirab budaya, pidato kebudayaan, performa seni, pantomim, teater, hingga wayang.
Selama lima hari itu, puluhan komunitas seni hingga para siswa turut andil dalam mementaskan kesenian.
Puncaknya dilaksanakan pada Minggu (29/9/2024) dengan melakukan kirab membawa gunungan sayur sejauh dua kilometer. Barulah dilanjutkan dengan pementasan lain.
Para penari itu tampak lincah menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Mengikuti irama dan musik yang dimainkan.
Raut wajahnya serius. Masyarakat pun antusias untuk menonton.
Tahun ini, Sujono melanjutkan, Festival Lima Gunung mendapat penghargaan dari akademisi di Jakarta karena telah konsisten merawat seni dan budaya di Kabupaten Magelang.
"Mungkin teman-teman akademisi Jakarta melihat festival yang sudah bertahun-tahun ini diselenggarakan secara swadaya masyarakat. Ditambah, festival ini masih terus berjalan hingga saat ini," lontarnya.
Tidak hanya anggota komunitas, masyarakat setempat turut berkontribusi dalam menyukseskan festival tersebut. Kegotong-royongan masyarakat sangat terasa.
Bahkan, mereka sengaja membuka pintu rumahnya lebar-lebar agar para peserta dari luar daerah bisa beristirahat maupun tidur dengan nyaman.
"Ada 30 rumah msyarakat yang digunakan untuk transit dan rias. Kalau penginapan, ada sekitar 20-an rumah. Bahkan, mereka sukarela menyediakan minuman hingga kudapan untuk peserta. Termasuk masjid di samping lapangan yang dibuka untuk mandi dan lainnya," imbuh dia.
Presiden Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut menyebut, tidak seorang pun yang bisa menghitung dana yang dihabiskan selama festival. Termasuk para akademisi.
Karena seluruh dananya berasal dari swadaya masyarakat setempat. "Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dan masyarakat yang membersamai kami," ujarnya.
Editor : Bahana.