Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Miris! Kondisi MI Sirojul Munir di Magelang Memprihatinkan, Minim Siswa hingga Atap Kelas Bocor: Kesulitan Mengakses Bantuan Karena Persyaratan Ini

Naila Nihayah • Jumat, 13 September 2024 | 21:10 WIB

 

KURANG LAYAK: Atap ruang kelas di MI Sirojul Munir bocor. Sehingga guru menggabungkan kelasnya demi keselamatan siswa.
KURANG LAYAK: Atap ruang kelas di MI Sirojul Munir bocor. Sehingga guru menggabungkan kelasnya demi keselamatan siswa.

MUNGKID - Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sirojul Munir di Dusun Grogol, Tanjungsari, Windusari berada dalam kondisi yang memprihatinkan.

Selain jumlah siswanya yang bisa dihitung jari, sarana dan prasarana madrasah tersebut kurang memadai.

Bahkan, atap kelasnya kerap bocor. Karena itu, tiga dari enam kelas tidak difungsikan karena khawatir atapnya menimpa siswa sewaktu-waktu. 

Bangunan MI Sirojul Munir yang bercat hijau itu sudah berusia lebih dari setengah abad, dan meski masih terlihat kokoh, kondisi di dalamnya kurang layak. Tidak hanya soal atap bocor, fasilitas lain seperti perpustakaan, UKS, dan gudang juga minim. 

Saat Radar Jogja bertandang ke sana, para siswa dengan semangat melantunkan nazam Alala. Begitu rampung, barulah pembelajaran dimulai.

Sebanyak enam ruang kelas yang dimilikinya, tiga ruang dalam kondisi baik dan dimanfaatkan untuk belajar. Dua lainnya dalam kondisi tidak layak digunakan karena atapnya bocor. Sehingga dimanfaatkan untuk gudang dan kurang terawat.

Sementara satu lainnya bisa digunakan, namun atapnya bocor akibat hujan deras beberapa hari lalu. Kondisi ini membuat para guru harus menggabungkan beberapa kelas demi keselamatan para siswa.

Hingga saat ini, madrasah hanya memiliki 20 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Karena jumlah siswa yang sedikit, beberapa kelas digabungkan.

Misalnya, kelas 1 dan 2 digabung menjadi satu karena masing-masing hanya memiliki empat dan dua siswa. Sedangkan kelas 3 ada tujuh siswa.

Kelas 4 dan 5 juga digabung menjadi satu kelas karena masing-masing hanya memiliki dua dan tiga siswa. 

Sementara kelas 6 hanya dua siswa. Mereka tidak memiliki ruang kelas, sehingga memanfaatkan ruang guru. Karena ada penggabungan kelas, masing-masing guru akan bergantian saat menjelaskan kepada siswanya.

Kepala MI Sirojul Munir Fatkhul Ma'arif mengatakan, sebelum ada madrasah itu, metode mengajarnya dengan bertandang dari satu rumah ke rumah lain.

Barulah pada tahun 1967, yayasan Ma'arif membangun madrasah untuk mewadahi siswa sekitar yang ingin mengenyam pendidikan.

Fatkhul mulai menjadi pengajar di MI Sirojul Munir sejak 2008. Dan dia diangkat menjadi kepala madrasah pada 2009 yang kala itu, siswanya sekitar 54 orang.

"Pada 2015, jumlah siswanya pernah di angka 98. Tapi, ada penurunan signifikan mulai 2018-2019. Jumlah (siswa) keluar dan masuk, tidak sebanding," katanya, Jumat (13/9/2024).

KURANG LAYAK: Para siswa saat kegiatan belajar mengajar di MI Sirojul Munir dengan kondisi atap ruang kelas yang bocor.
KURANG LAYAK: Para siswa saat kegiatan belajar mengajar di MI Sirojul Munir dengan kondisi atap ruang kelas yang bocor.

Padahal, siswa yang bersekolah di MI Sirojul Munir tidak dipungut biaya. Mulai dari biaya administrasi, sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), hingga seragam.

Siswa hanya dibebankan biaya pembelian lembar kerja siswa (LKS). Namun, hal itu tidak berlaku bagi siswa yatim piatu. Seluruh biaya sekolah, digratiskan.

Untuk biaya operasional madrasah, mereka hanya mengandalkan dari dana bantuan operasional sekolah (BOS). Hanya saja, dengan jumlah siswa yang sedikit itu, membuat madrasah kerap kesulitan untuk menambah sarana prasarana serta fasilitas penunjang lainnya.

Dia menyebut, pada 2018, mereka pernah mengajukan proposal bantuan sarana prasarana kepada sejumlah instansi, seperti DPR RI maupun Kemenag.

Namun, untuk mendapat bantuan tersebut, madrasah harus memenuhi persyaratan tertentu khususnya terkait jumlah siswa.

Kemudian, pada 2020, madrasah kembali mengajukan bantuan dan hendak mendapat Rp 105 juta untuk pembangunan gedung. Namun, bantuan itu urung diberikan karena jumlah siswanya tidak mencapai batas minimal yang ditentukan, yakni 75 siswa.

Kejadian serupa juga dialami pada 2022 yang saat itu, madrasah mengajukan proposal lewat DPRD Kabupaten Magelang untuk diteruskan kepada DPR RI.

"Rencananya mereka mau memberikan bantuan dari dana alokasi khusus (DAK) sekitar Rp 330 juta dengan syarat siswanya minimal ada 100. Akhirnya tidak jadi lagi (mendapat bantuan)," jelasnya.

Hingga saat ini, mereka kesulitan mendapat bantuan dana tersebut. Sementara kondisi madrasahnya dirasa perlu mendapat penanganan khusus demi kelancaran dan kenyamanan belajar para siswa.

Madrasah itu terakhir kali mendapat bantuan dana sekitar 2017 lalu untuk pembangunan ruang kelas.

Selain persoalan jumlah siswa, sistem penggajian guru yang belum bersertifikasi, masih mengandalkan pemerintah desa setempat.

Saat ini, ada lima pengajar di sana yaitu tiga di antaranya sudah bersertifikasi.

"Kami sempat meminta bantuan ke pemerintah desa. Alhamdulillah, diterima. Alhasil, kami mendapat bantuan untuk menggaji dua guru masing-masing Rp 400 ribu per bulan," sebutnya.

Dia berharap, pemerintah maupun instansi terkait dapat mencurahkan perhatiannya kepada sekolah-sekolah yang sangat membutuhkan uluran tangannya.

Termasuk MI Sirojul Munir. Dia khawatir, kondisi ruang kelas yang kurang layak itu dapat mengganggu aktivitas siswa.

Ketika ruang kelas memadai dan bangunan madrasah semakin layak, praktis orang tua tidak akan khawatir untuk menyekolahkan anaknya di MI Sirojul Munir.

"Selama ini, mungkin warga melihat bangunan madrasah ini kurang bagus. Apalagi kalau hujan, mungkin mereka khawatir akan roboh," terangnya.

Seorang guru di MI Sirojul Munir Abdul Mufid menyebut, sejak 2010 mengajar di madrasah tersebut pernah memiliki siswa sekitar 98 orang.

Masing-masing kelas dihuni lebih dari 10. Namun, sekitar 2016, jumlah siswanya perlahan berkurang dan puncaknya hampir empat tahun lalu.

Dia menilai, banyak orang tua yang enggan menyekolahkan anaknya di MI Sirojul Munir karena bangunan madrasahnya terbilang kurang layak.

"Mungkin orang tua kurang mantap. Kami pun kesulitan kalau mau memperbaiki atau membangun kelas baru karena setiap mengajukan bantuan dana, selalu gagal," tandasnya.

Kondisi itu membuat guru harus memutar otak agar siswa tetap bisa belajar seperti biasanya.

Sehingga dipilihlah opsi untuk menggabungkan kelas. Mengingat dua kelas tidak bisa digunakan akibat kebocoran atap. Meski berbagi ruang kelas, tetapi siswa tetap semangat untuk belajar.

Lain halnya dengan Abdul, Mustofiyah justru sudah menjadi guru di MI Sirojul Munir sejak 1996. Kala itu, ada sekitar 123 siswa. Seiring berjalannya waktu, bangunan madrasah tersebut dimakan usia dan semakin ditinggalkan siswa.

Apalagi, atap ruang kelasnya kerap bocor. Mustofiyah khawatir, atap tersebut ambrol dan menimpa siswa. Karena itu, mereka memilih untuk menggabungkan kelasnya demi keamanan bersama.

Sebetulnya, dia berkeinginan untuk pindah di sebuah MI dekat rumahnya, di wilayah Kaliangkrik. Hanya saja, kades Tanjungsari tidak memperbolehkannya.

"Saya disuruh ngopeni (merawat) di sini (MI Sirojul Munir). Memang saya asli Windusari, tapi ikut suami di Kaliangkrik sejak 2000," ujarnya.

Dia berharap, madrasah ini tidak ditutup meski kekurangan siswa dan fasilitasnya kurang memadai. Dia bersama guru lain akan mempertahankan agar madrasah itu tetap berjalan semestinya.

Bahkan, setiap memasuki tahun ajaran baru, mereka jemput bola di desa sekitar supaya mendapatkan siswa.

Bahkan, kelas 6 hanya terdapat dua siswa, yakni Asma Nadia dan Nuri Aisyah. Jika satu di antara mereka tidak hadir, akan terasa semakin sepi dan sunyi.

"(Hanya berdua) sejak kelas 1. (Merasa) sepi. Kalau Nuri nggak masuk, ya sendirian," papar Asma.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Magelang Muhammad Miftah telah memberikan bantuan sebesar Rp 5 juta kepada MI Sirojul Munir untuk memperbaiki sarana prasarana.

"Harapannya, bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga kegiatan belajar-mengajar berjalan baik," harapnya. (aya)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#atap sekolah bocor #Kabupaten Magelang #minim siswa #sirojul munir #madrasah ibtidaiyah #MI Sirojul Munir #Mungkid #sarpras #atap bocor #memprihatinkan