Kemeriahan BNC semakin terasa saat 34 kontingen mulai berjalan dan unjuk kebolehan di hadapan para tamu undangan. Mereka menampilkan potensi dari masing-masing desa, mulai dari tarian hingga produk UMKM.
Karnaval bertajuk 'Gebyar Bumi Sambhara' ini diawali dengan pasukan pembawa bendera merah putih.
Kemudian, disusul dengan kontingen dari masing-masing desa di Kecamatan Borobudur, instansi, dan sekolah. Mereka berjalan dari depan Museum & Kampung Seni Borobudur menuju depan kantor kecamatan.
Panitia telah menyiapkan panggung utama di depan kantor. Setiap peserta unjuk gigi di depan tamu undangan selama lima menit.
Setelah itu, barulah mereka akan berjalan lagi hingga bundaran pohon beringin di dekat eks pintu 3 Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur.
Di sana, mereka juga kembali unjuk gigi maksimal lima menit. Kemudian, para peserta melanjutkan perjalanan ke Terminal Borobudur sebagai tujuan akhir.
Camat Borobudur Subiyanto mengatakan, perhelatan BNC kali ini memang tidak menggandeng daerah lain.
Meski sudah ada sejumlah daerah yang berkeinginan untuk turut serta dalam BNC. Namun, kegiatan ini dikhususkan untuk warga lokal. Mengingat terdapat beberapa pembangunan di kawasan Borobudur yang dikhawatirkan dapat mengganggu.
Ada 34 kontingen yang berpartisipasi pada BNC. 20 di antaranya dari masing-masing desa di Kecamatan Borobudur, ditambah dengan instansi dan sekolah.
"Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-79 RI, tapi konsepnya dilakukan pada malam hari biar beda dengan lainnya. Masing-masing kontingen dapat menampilkan potensi yang dimiliki," paparnya di sela kegiatan.
Dia menyebut, perhelatan BNC sudah memasuki tahun kelima dan menjadi event tahunan sebagau upaya untuk membuat atraksi di malam hari di kawasan Borobudur.
Harapannya, gelaran ini semakin dapat menarik wisatawan dari berbagai daerah untuk datang ke Borobudur. Sehingga bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang Mulyanto memandang, BNC memang perlu dilakukan sebagai bentuk peran serta dalam pengembangan adat dan budaya daerah.
Sebab, kegiatan seperti itu menjadi satu warisan budaya yang harus dijaga bersama.
Namun, dia mengatakan, BNC seyogyanya tidak hanya menjadi ajang perayaan semata.
Tetapi juga dijadikan momentum dalam memperkenalkan dan mempromosikan wisata di kawasan Borobudur kepada masyarakat luas.
"Ditambah dengan keberadaan Candi Borobudur sebagai magnet wisatawan. Harapannya, BNC tidak hanya menjadi hiburan semata, tapi juga membangun solidaritas," paparnya. (aya)
Editor : Bahana.