RADAR JOGJA - Banyak cara yang ditempuh untuk meraup pundi-pundi rupiah. Meski tergolong pekerjaan yang menantang pun, akan tetap dilakoni demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti halnya pasangan suami istri asal Ngablak Magelang, Ngabdu dan Istiyah. Di usianya yang sudah senja, mereka rela naik-turun Gunung Andong dengan memanggul jeriken berisi air. Seperti apa perjuangannya?
Baskara belum sempurna menampakkan diri. Embun belum sepenuhnya hilang dari balik dedaunan. Namun, ada dua insan yang sejak subuh sudah bersiap diri untuk mendaki Gunung Andong. Begitu selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba, dua insan itu merajut semangat dan memantapkan langkahnya demi menaklukkan gunung tersebut.
Mereka adalah Ngabdu, 66 dan Istiyah, 65 pasangan suami istri (pasutri) asal Dusun Sawit, Girirejo, Ngablak, Magelang. Berbekal semangat yang penuh, keduanya mulai meniti jalur di Gunung Andong via basecamp Sawit. Namun, pakaian yang dikenakan, bukan mencirikan seorang pendaki, lengkap dengan tas ransel maupun sepatu gunungnya.
Justru mereka hanya mengenakan pakaian sehari-hari dan sandal. Sesekali memakai sepatu. Seolah mendaki ke Gunung Andong merupakan rutinitas sehari-hari dan mudah untuk ditaklukkan. Nyatanya, Ngabdu dan Istiyah memang saban hari naik-turun Gunung Andong. Mbah Air, sapaan akrab mereka, sudah hafal di luar kepala dengan medan di gunung tersebut.
Menariknya, mereka tidak mendaki dengan tangan kosong. Ada sejumlah barang yang dibawa. Utamanya aneka belanjaan sayur-mayur, gas elpiji, dan lainnya. Belanjaan itu diperuntukkan bagi dua warung yang berada di puncak Gunung Andong. Begitu sampai di puncak, keduanya memberikan belanjaan itu. Lantas, turun kembali ke pos 3 untuk mengambil air bersih. Tepatnya di sebuah mata air.
Semangatnya dalam bekerja patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, saban hari keduanya harus menyunggi satu jeriken berisi 17 liter air menuju puncak Gunung Andong. "Biasanya jeriken saya taruh di jalan. Terus turun ambil (air) ke bawah (pos 3). Jaraknya sekitar 600 meter (dari pos 3 ke puncak gunung)," ujar Ngabdu, beberapa waktu lalu.
Tidak sekali dua kali keduanya membawa jeriken itu naik ke puncak gunung. Biasanya, dalam sehari, mereka bisa bolak-balik menyunggi jeriken air sebanyak 10 kali. Bahkan, ketika weekend atau hari libur, mereka bisa 16-20 kali naik-turun menyunggi jeriken. Pekerjaan yang nampak melelahkan bagi orang yang tidak biasa melakoninya.
Baca Juga: Gempa 5,8 Magnitudo Guncang Gunungkidul dan Sekitarnya, Sejumlah Rumah Dilaporkan Rusak Ringan
Baca Juga: Edukasi Interaktif melalui Simulasi Beberan Jadi Strategi Pencegahan Stunting di Sleman
Berbeda dengan Ngabdu dan Istiyah yang selalu bersemangat meski di usianya yang tidak muda lagi. Apalagi mereka konsisten melakoni rutinitas itu selama 13 tahun ini. Tidak memandang cuaca berkabut, hujan, atau panas. Sebab, bisa dikatakan, pekerjaan itu menjadi sumber penghasilan utamanya.
Itulah satu alasan keduanya tetap bertahan dengan pekerjaan tersebut. Mereka akan mendapat upah sebesar Rp 25 ribu per satu jeriken air. Namun, upah itu tidak didapat setiap hari. Melainkan akan diberikan seminggu sekali. "Sudah 13 tahun, nggak pernah pegal-pegal. Rezekinya memang di sini (Gunung Andong)," lontarnya.
Kedua pasutri ini pun kerap disapa Mbah Air. Sebutan tersebut diberikan karena setiap harinya mereka mengambil atau ngangsu air. Tidak sedikit pendaki yang kagum dengan kegigihan mereka. Seolah menjadi tamparan keras. Alih-alih mengeluh, setiap insan harusnya bersyukur dengan pekerjaan yang bisa dikatakan lebih mapan dan beruntung dibanding Ngabdu dan Istiyah.
Baca Juga: Gempa 5,8 Magnitudo DIY Sebabkan Warga Panik, Hingga Atap Bangunan Pasar Prambanan Rontok
Saat menyunggi jeriken, banyak pendaki yang sekadar menyapa, memberi semangat, atau bahkan memberinya makanan dan minuman. Dengan hal-hal kecil seperti itu, rasa lelahnya seolah lenyap bagai kabut diburu sinar matahari pagi. Bahkan, ada pula pendaki yang membantunya menyunggi jeriken. "Kalau ketemu pendaki, kadang dibantu naikan (jeriken) di kepala," kata Istiyah.
Dengan beratnya pekerjaan yang dilakoni itu, mereka tetap menjaga pola makan hingga membuatnya sehat setiap harinya. "Resepnya makan sama sayur dan gereh (ikan dikeringkan). Setiap hari minum air putih (panas). Kadang ya minum teh atau kopi. Tapi, seringnya minum air putih," timpal Ngabdu.
Kakek dua cucu itu akan berhenti naik-turun gunung ketika sudah lelah. Biasanya, mereka akan turun sekitar pukul 11.00 dan pulang ke rumah untuk beristirahat. Barulah setelah Zuhur, mereka pergi ke kebun untuk bercocok tanam. Rutinitas seperti itulah yang dilakukan Ngabdu dan Istiyah setiap harinya.
Editor : Heru Pratomo