Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pertemuan Alot dan Sempat Emosi, Polemik PKL Candi Borobudur pun Belum Ada Titik Temu

Naila Nihayah • Kamis, 15 Agustus 2024 | 05:20 WIB
RAMAI: Ratusan pedagang yang tergabung dalam SKBM saat audiensi dengan PT TWC terkait relokasi ke Kampung Seni Borobudur, (14/8).NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
RAMAI: Ratusan pedagang yang tergabung dalam SKBM saat audiensi dengan PT TWC terkait relokasi ke Kampung Seni Borobudur, (14/8).NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Polemik pedagang kaki lima (PKL) di Candi Borobudur yang tergabung dalam Paguyuban Sentra Kerajinan Makanan Borobudur (SKBM) belum mereda. Mereka kukuh tidak ingin menjadi bagian dari anggota Forum Pedagang Borobudur Bersatu (FPBB) saat resmi dipindah ke Kampung Seni Borobudur. 


Mereka hadir di Balkondes Borobudur untuk melakukan audiensi dengan PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Mengenakan pakaian berwarna merah dan putih, mereka datang bersama perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogja. Pertemuan cukup alot karena belum menemukan titik temu. 


Bisa dibilang pertemuan itu cukup dramatis. Antara pedagang SKMB dan FPBB adu emosi. Situasi pun sempat memanas. Beruntung, polisi dan kejaksaan berhasil meredamkan emosi di antara mereka.


Corporate Secretary PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Ryan Eka Permana Sakti mengutarakan, pihaknya telah memfasilitasi para pedagang untuk menyampaikan keluh kesahnya. "Dari kerendahan hati masing-masing pihak, kami berharap ke depan terjadi diskusi yang lebih konstruktif karena ini intern mereka," ujarnya kemarin (14/8).


Dengan begitu, antara SKMB dan FPBB akan memperoleh solusi teknis terkait proses ribuan pedagang itu dapat beraktivitas di Kampung Seni Borobudur. Setidaknya, mereka bisa saling terbuka dan legawa. Namun dia melihat, pertemuan kali ini belum memperoleh solusi maupun kesepakatan di antara keduanya.


Di satu sisi dia menyebut antara SKBM dan FPBB sudah saling duduk bersama. "Yang selama ini mungkin tidak atau jarang kita lihat. Kedua, ternyata sudah ada komunikasi. Tadi (berjalan) cukup kondusif. Kami berharap, kondusivitas ini menjadi pesan atau sinyal yang baik buat seluruh anggota, para pedagang. Bahwa hal yang terlihat sulit bisa didikusikan dengan cara yang baik-baik," katanya. 


Namun, Sakti belum bisa memastikan pertemuan selanjutnya untuk membahas hal yang lebih teknis. Prinsipnya, PT TWC sedari awal telah memfasilitasi komunikasi dan koordinasi yang baik dengan kedua kelompok pedagang. "Saya harap, nantinya siapa pun itu yang akan benar-benar berpartisipasi aktif dalam mengelola lebih dari 1.900 pedagang bisa menjadi fasilitator yang baik dan mengayomi," imbuhnya. 


Pengabdi bantuan hukum LBH Jogja Royan Juliazka mengatakan, audiensi ini merupakan rentetan dari beberapa kali pertemuan yang diadakan sebelumnya. "Yang kami dampingi sekitar 315 pedagang. Mereka akan masuk (berpindah dagang) ke Kujon dan mereka butuh kepastian itu. Selama ini mereka merasa tergusur dan informasi yang diterima simpang siur," terangnya. 


Informasi simpang siur itu, kata dia, terkait ketersediaan lapak di Kampung Seni Borobudur. Ternyata dari PT TWC tetap memfasilitasi seluruh pedagang dan mendapatkan lapak mereka. Hanya saja yang menjadi permasalahan adalah ketidakikutsertaan SKMB pada keanggotaan FPBB. "Mereka mau masuk ke Kujon, tapi tidak mau di bawah FPBB. Apakah nanti lebur dengan FPBB atau tidak, belum diputuskan," sambungnya. 


Royan menyebut, LBH berupaya mengantisipasi agar tidak terjadi konflik horizontal antara SKBM dan FPBB. Karena dia melihat seluruh pedagang memang menjadi objek dari kebijakan pemerintah terkait pemindahan itu. Dia berharap, semua pihak turut mengawal pemindahan tersebut dan seluruh pedagang mendapat haknya. (aya/laz)

Editor : Satria Pradika
#Candi Borobudur #Pedagang Kaki Lima #Polemik PKL #SKBM