RADAR JOGJA - Heritage Impact Assesment (HIA) atau penilaian dampak warisan soal rencana pemasangan kembali chattra Candi Borobudur, telah rampung. Saat ini, pemerintah fokus menyusun detail engineering design (DED) serta kajian teknisnya. Ada tiga alternatif yang bisa menjadi bahan pertimbangan pemasangan chattra.
Direktur Kebijakan Pembangunan Manusia, Kependudukan, dan Kebudayaan, BRIN Prof Anugerah Widiyanto mengutarakan, telah melakukan serangkaian kajian terkait pemasangan kembali chattra. "Kemarin, HIA-nya terhadap rencana dampak pemasangan chattra. Termasuk mitigasinya," terangnya, Kamis sore (8/8).
Hanya saja, kata dia, kajian tersebut masih teoretis atau sebatas simulasi penghitungan beban berat chattra dan lainnya. Saat ini, BRIN tengah mempersiapkan pemasangan chattra. Namun, BRIN masih menunggu izin dari Kemendikbudristek terkait pemasangannya.
Begitu mengantongi izin, kata dia, BRIN akan menyusun DED dan melakukan rekonstruksi chattra dari bawah. Tetapi, dia belum bisa memastikan kapan izin rekonstruksi tersebut turun. Setelah rampung, barulah dilakukan pemasangan di atas stupa induk Candi Borobudur.
Anugerah menyebut, selama kajian berlangsung, BRIN memunculkan tiga alternatif. Pertama, chattra model yang sesuai dengan hasil rekonstruksi Theodore van Erpstruktur. Artinya, chattra itu hanya memuat 40 persen batu asli dan bebatuan lainnya akan dihilangkan.
Kedua, chattra akan dipasang dengan konstruksi 80 persen bebatuan asli. Terakhir, pemasangan chattra akan dilakukan dengan memuat 100 persen batu baru. "Mereka (umat Buddha) ternyata merekomendasikan alternatif yang kedua dengan batu asli 80 persen," paparnya.
Selain itu, UNESCO juga ada beberapa alternatif pemasangan kembali chattra. "Kalau dari syarat jumlah (bebatuan) aslinya di atas 50 persen lebih, tidak apa-apa (dipasang). Nanti kami akan diskusi lagi. Karena ada yang pro dan kontra," imbuhnya.
Editor : Satria Pradika