RADAR JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen telah menyiapkan anggaran senilai Rp 364 juta untuk mengatasi krisis kemarau. Anggaran dari APBD tersebut dialokasikan untuk kebutuhan belanja air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kepala BPBD Kebumen Udi Cahyono menyampaikan, fenomena krisis air bersih selama musim kemarau Kebumen memang belum bisa dihindari. BPBD melakukan antisipasi dini dengan mengalokasikan anggaran bantuan air bersih untuk masyarakat di wilayah rawan kekeringan. "Kalau dijumlah anggaran itu bisa buat bantuan sekitar 1.000 tangki air," katanya, Selasa (30/7).
Udi menjelaskan, di Kebumen sendiri terdapat sedikitnya 90 desa rawan kekeringan. Mayoritas desa tersebut berada di wilayah perbukitan bagian utara Kebumen. Meliputi Kecamatan Karangsambung, Alian, Karanganyar, Karanggayam, Sadang hingga Kecamatan Sempor.
Dia berharap, dari anggaran tersebut dapat menjangkau kebutuhan air bersih masyarakat selama musim kemarau. Namun begitu, jika anggaran yang tersedia tidak mencukupi, maka BPBD Kebumen akan melakukan upaya lain dengan menggandeng berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. "Mudah-mudahan dapat teratasi. Karena sejauh ini baru satu desa yang minta air bersih," jelasnya.
Selain kekeringan, ada beberapa catatan yang menjadi fokus perhatian BPBD Kebumen selama musim kemarau. Antara lain soal potensi kebakaran hutan dan lahan alias karhutla. Sejauh ini, BPBD bersama lintas sektor terus gencar sosialisasi tentang pencegahan karhutla. Khususnya sosialisasi menyasar masyarakat yang berada di dekat kawasan hutan atau perkebunan.
Sementara itu, Camat Karanganyar Suis Idawati mengatakan, sejauh ini belum ada laporan masuk soal krisis air bersih di wilayahnya. Kendati begitu, pihaknya akan segera meneruskan laporan ke BPBD jika terdapat desa yang perlu bantuan kiriman air bersih. "Air masih mencukupi, karena belum puncak. Kalau toh ada kami langsung minta bantuan BPBD," jelasnya. (fid/pra)