Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinsosdaldukkb Purworejo Minta Ortu Jangan Malu, Stunting Masih Bisa Diperbaiki sebelum Usia 24 Bulan

Jihan Aron Vahera • Rabu, 17 Juli 2024 | 13:25 WIB
Ilustrasi anak alami stunting.
Ilustrasi anak alami stunting.

 

RADAR JOGJA - Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsosdaldukkb) Purworejo minta agar orang tua yang memiliki anak terindikasi stunting jangan malu. Sebab, hal tersebut justru dapat memperburuk situasi atau kondisi anak.


Kepala Dinsosdaldukkb Purworejo Ahmat Jainudin meminta agar orang tua proaktif untuk terus berkomunikasi dengan bidan desa, kepala desa, atau ke fasilitas kesehatan (faskes) agar anak mendapatkan pertolongan. "Saya berharap masyarakat terbuka, karena masih bisa diperbaiki sebelum anak berusia lebih dari 24 bulan (dua tahun)," ujarnya Selasa (16/7).


Diungkapkan, percepatan penurunan stunting merupakan salah satu program prioritas di Kabupaten Purworejo. Ada dua parameter angka stunting di Kabupaten Purworejo, yaitu menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) angka stunting di Kabupaten Purworejo pada 2023 mengalami penurunan 0,7 persen. "Dari 21,3 persen pada 2022 menjadi 20,6 persen di 2023," ujarnya.


Sedangkan, parameter kedua yaitu aplikasi elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM). Yaitu, berdasarkan pada pengukuran dan penimbangan pada seluruh balita di Kabupaten Purworejo. "Angkanya sekitar 14-15 persen," sebutnya.


Meskipun berbeda, kata Jainudin, angka tersebut tetap dipegang sebagai pijakan untuk melakukan program penurunan stunting secara kolaboratif. Menurutnya, selama ini pihaknya telah berupaya untuk melakukan penurunan stunting. Di antaranya, dengan membentuk tim pendamping keluarga hingga bapak asuh anak stunting.


Jainudin mengatakan, tim pendamping keluarga itu ada di setiap desa dan kelurahan yang terdiri dari bidan desa, PKK, dan kader KB. "Mereka fokus melakukan pendampingan pada keluarga berisiko stunting seperti ibu hamil terlalu tua, terlalu muda, anak pertama dan kehamilan kedua terlalu dekat, anak di bawah dua tahun yang sejak lahir ada tanda-tanda stunting, dan sebagainya," paparnya.


Menurutnya, penurunan stunting merupakan permasalahan yang harus diselesaikan secara terintegrasi dengan lintas sektor. Di Kabupaten Purworejo sendiri, pengurangan stunting juga melibatkan dunia swasta yaitu dengan membuat bapak asuh anak stunting. "Sejak akhir 2023 lalu sudah ada sekitar 130 bapak asus anak stunting dari dunia swasta yang bersedia memberikan asupan gizi selama tiga bulan berturut-turut," lanjutnya.


Bapak asuh anak stunting tersebut diberikan data anak berisiko stunting di Kabupaten Purworejo oleh Dinsosdaldukkb Purworejo untuk selanjutnya diberikan bantuan. Dia berharap, bapak asuh tersebut dapat meningkat untuk membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo dalam menangani masalah stunting.


Jainudin mengungkapkan, permasalahan stunting dapat dicegah sejak dini. Yaitu, dengan mempersiapkan anak perempuan yang sehat, menikah pada usia yang cukup yaitu perempuan 21 tahun dan laki-laki 25 tahun.

Saat hamil, ibu hamil harus ternutrisi dengan baik dan rajin periksa kehamilan. Kalau lahir terkini stunting, jangan malu banyak komunikasi dengan bidan desa atau ke faskes. “Kita perbaiki bareng-bareng sebelum usia 2 tahun," pesannya. (han/pra) 

Editor : Satria Pradika
#bulan #pemkab #Bapak Asuh #24 #Stunting #ibu hamil #KB #Dinsosdaldukkb #Purworejo