Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fenomena Bediding Terjadi di Indonesia Bagian Selatan, Akibatkan Suhu Udara Terasa Dingin: Penyebabnya Karena Ini

Naila Nihayah • Selasa, 16 Juli 2024 | 22:52 WIB

 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

MUNGKID - Beberapa waktu terakhir, suhu dingin yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi sorotan masyarakat.

Terutama di Indonesia bagian selatan seperti Jawa, Bali, NTT, NTB, dan Papua Selatan.

Fenomena yang disebut bediding itu disebabkan adanya angin monsun dari Australia.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, fenomena bediding ini mengakibatkan suhu udara terasa dingin.

Tidak hanya di pagi hari, suhu dingin juga dirasakan saat malam hari.

"Penyebabnya adalah angin monsun dari Australia yang bertiup menuju Asia," katanya di Desa Tempak, Candimulyo, Magelang, Selasa (16/7/2024). 

Dia menyebut, angin tersebut diketahui bersifat kering dan sedikit membawa uap air.

"Saat ini Australia sedang musim dingin. Angin itu berasal dari gurun sehingga itulah yang datang ke Indonesia. Terutama di pulau Jawa, Bali, NTT, NTB, dan Papua Selatan," ujarnya.

Terlebih, suhu di perbukitan atau pegunungan cenderung lebih dingin. Ini disebabkan karena ada perbedaan elevasi dengan permukaan air laut.

Apalagi perairan Samudera Hindia juga memiliki suhu permukaan laut relatif rendah atau dingin.

"Angin monsun ini tidak terlalu berdampak di Indonesia bagian utara. Seperti Sumatera, Kalimantan, maupun Maluku. Bahkan, sebagian wilayah di Sumatera dan Kalimantan, masih hujan," jelasnya.

Dwikorita memprediksi, puncak musim kemarau ini terjadi pada Juli-Agustus.

"Jadi, (iklim) di Indonesia tidak bisa seragam. Tergantung posisinya ada di mana. Lebih dekat dari Australia atau Asia. Evelasinya berapa atau lebih di ekuator," terangnya.

Menurutnya, perubahan iklim yang tidak menentu ini, berdampak terhadap lahan pertanian warga.

Lambat laut, akan muncul fenomena water hotdspot atau keringnya sumber-sumber mata air. Nantinya berpotensi gagal panen.

Dia mengimbau kepada masyarakat untuk memantau informasi berkaitan dengan cuaca melalui media sosial BMKG.

"Karena kami selalu menginformasikan kondisi cuaca hari ini, hari setelahnya, bahkan bisa sampai enam hari ke depan. Jadi, kita bisa tahu, oh besok suhunya akan seberapa. Terutama malam hari," imbuhnya. (aya)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#bagian selatan jawa #suhu dingin #australia #Angin Monsun #fenomena #Fenomena Bediding #Mungkid #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. BMKG #Indonesia