Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kapasitas TPA Sudah Overload, Capaian Pembangunan TPST Pasuruhan Magelang Baru Sentuh 37 Persen: Ternyata Ini Alasannya

Naila Nihayah • Jumat, 12 Juli 2024 | 22:58 WIB
MENUMPUK: Sampah yang ada di TPA Pasuruhan, Mertoyudan semakin menggunung. Karena sudah kelebihan kapasitas sejak 2017 lalu.
MENUMPUK: Sampah yang ada di TPA Pasuruhan, Mertoyudan semakin menggunung. Karena sudah kelebihan kapasitas sejak 2017 lalu.

MUNGKID - Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Pasuruhan, Mertoyudan masih berproses dan akan terus digenjot.

Saat ini, progres pembangunannya hingga minggu ke-33 atau per tanggal 4 Juli 2024 baru mencapai 37 persen.

Padahal, kapasitas di TPA Pasuruhan saat ini itu sudah overload sejak 2017. 

Maka, TPA Pasuruhan yang memiliki luas 1,6 hektare ini diperluas dan akan difungsikan sebagai TPST.

Sehingga tak lagi hanya sebagai tempat pembuangan sampah, melainkan pengolahan terpadu.

TPA ini, sebelumnya dapat menampung seluruh sampah di 21 kecamatan. Karena sudah overload, sepertiga dari sampah yang masuk ke TPA Pasuruhan, dialihkan ke TPA Klegen, Grabag.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang Sarifudin mengatakan, capaian pembangunan TPST sebesar 37 persen itu masih terbilang rendah.

Karena persentase terbesarnya, ada pada alat pengelola sampah yang saat ini masih proses perakitan.

"Kalau itu (alat pengelola sampah, Red) sudah dipasang, saya yakin nanti bobot capaian pembangunan TPST ini akan langsung melonjak," katanya, Kamis (11/7/2024).

Sarifudin menjelaskan pembangunan TPST Pasuruhan ini untuk menyelesaikan masalah sampah di Kabupaten Magelang. Terutama di kawasan destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) Borobudur dan sekitarnya. Sehingga persoalan sampah itu dapat terurai.

Dia menyebut, luas hanggar yang dibangun pada proyek TPST Pasuruhan ini kurang lebih sebesar 5.000 meter persegi. Nantinya, mampu menampung dan mengolah sampah sebanyak 100 ton per hari, terutama di wilayah DPSP Borobudur.

Sementara output dari pengelolaan sampah ini akan diolah menjadi refuse derived fuel (RDF) sebagai pengganti bahan bakar batu bara pada pabrik semen.

Bahkan, Pemkab Magelang telah menandatangani MoU dengan pabrik semen di Cilacap untuk menerima hasil RDF yang dihasilkan oleh TPST Pasuruhan.

Sementara itu, Pj Bupati Magelang Sepyo Achanto menekankan agar proses pembangunan TPST ini bisa lebih dipercepat.

"Saya berharap agar pembangunan TPST Pasuruhan ini bisa lebih cepat dan sudah bisa beroperasional pada 3 September 2024," katanya.

Sepyo juga mendorong percepatan pemasangan maupun perakitan alat pengelola sampah di TPST Pasuruhan.

Minimal sudah bisa beroperasi terlebih dahulu. Sehingga dapat mengolah sampah hingga melakukan pengiriman RDF ke pabrik semen yang berada di Cilacap. (aya)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Pemkab Magelang #Magelang #TPA Klegen #refuse derived fuel #TPA Pasuruhan #Alat Pengelola Sampah #Refuse Derived Fuel (RDF) #kelebihan kapasitas #overload #Mungkid #tempat pengolahan sampah terpadu #Pembangunan TPST #Pj Bupati Magelang Sepyo Achanto