RADAR JOGJA - Disperindag KUKM Kebumen angkat bicara soal eskalator yang tak berfungsi optimal sejak Pasar Tumenggungan diresmikan. Keberadaan tangga berjalan tersebut dinilai kurang tepat guna. Bahkan Disperindag juga cukup kewalahan menanggung biaya listrik dan perawatan eskalator.
Kepala Disperindag KUKM Kebumen Haryono Wahyudi menyampaikan, sejak awal dia tak mengetahui persis soal detail perencanan berdirinya Pasar Tumenggungan. Termasuk keberadaan eskalator sebagai salah satu fasilitas pasar. Semua itu di luar jangkauan dirinya, sebab dia adalah orang baru di lingkungan Disperindag Kebumen.
"Konsepnya bagus, ternyata begitu diterapkan tidak cocok," jelas Haryono, Selasa (9/7).
Baca Juga: Menkumham Tanda Tangan Traktat Internasional tentang Sumber Daya Genetik dan Pengetahuan Tradisional
Baca Juga: Tim Basket DIY Optimistis Raih Emas PON XXI
Haryono mengatakan, ada beberapa alasan sehingga eskalator kurang tepat jika berada di pasar tradisional. Seperti menyangkut perilaku, barang jualan hingga segmen usia dan latar belakang masyarakat yang datang ke pasar.
Berbeda halnya ketika eskalator berada di sebuah swalayan atau mall. "Pasar tidak sama dengan mall. Di sana barang kering. Lah di pasar itu jualan macam-macam. Habitnya beda," katanya.
Haryono menjelaskan, banyak konsekensi yang harus ditanggung ketika eskalator pasar terus beroperasi. Utamanya kendala biaya listrik dan perbaikan alat. Oleh karena itu, pihaknya selaku dinas teknis akan mengkaji keberadaan eskalator di Pasar Tumenggungan.
"Maintanance dan listrik paling tidak satu bulan harus. Anggaran itu bisa buat yang lain. Ketika anggaran pemeliharaan tidak tersedia repot. Retribusi pasar tidak cukup," jelasnya.
Baca Juga: Masih Ada Waktu Dua Minggu, Coklit Tiga Kapanewon di Gunungkidul Sudah 100 Persen
Sebelumnya, pedagang maupun pengunjung Pasar Tumenggungan mengeluhkan buruknya sejumlah fasilitas pasar. Salah satunya tangga berjalan atau eskalator yang telah lama tak beroperasi. Mereka cukup menyayangkan keberadaan eskalator sebagai fasilitas sekaligus daya tarik pasar justru tak berfungsi optimal.
Pedagang Lantai 2 Pasar Tumenggungan, Fathurohman, 30, mengatakan, dirinya tak mengetahui persis penyebab matinya eskalator pasar. Dia hanya mengamati eksalator tersebut beroperasi normal hanya tiga tahun pasca peresmian pasar.
"Sudah lama banget mati. Tidak tahu itu rusak atau bagaimana, saya kurang begitu paham," ungkapnya.
Fathurohman berharap, matinya eskalator di Pasar Tumenggungan segera mendapat perhatian. Menurutnya, eskalator merupakan fasilitas penting terutama bagi para penyandang disabilitas, lansia maupun ibu hamil.
Tak hanya itu, keberadaan tangga jalan juga akan memberikan nilai lebih terhadap pasar tradisional. "Kalau bisa ya nyala. Biar yang datang itu nyaman. Tidak kapok ke pasar," bebernya. (fid)
Editor : Heru Pratomo