Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Eskalator di Pasar Tumenggunangan Kebumen, Sebut Pasar Beda dengan Mal, Dinas Kewalahan Bayar Listrik

Muhammad Hafied • Rabu, 10 Juli 2024 | 12:50 WIB

MATI TOTAL : Pengunjung Pasar Tumenggungan berjalan di atas eskalator yang mati. Tangga berjalan tersebut tak beroperasi optimal sejak pasca peresemian pasar. M Hafied/Radar Jogja
MATI TOTAL : Pengunjung Pasar Tumenggungan berjalan di atas eskalator yang mati. Tangga berjalan tersebut tak beroperasi optimal sejak pasca peresemian pasar. M Hafied/Radar Jogja

RADAR JOGJA - Disperindag KUKM Kebumen angkat bicara soal eskalator yang tak berfungsi optimal sejak Pasar Tumenggungan diresmikan. Keberadaan tangga berjalan tersebut dinilai kurang tepat guna. Bahkan Disperindag juga cukup kewalahan menanggung biaya listrik dan perawatan eskalator.

Kepala Disperindag KUKM Kebumen Haryono Wahyudi menyampaikan, sejak awal dia tak mengetahui persis soal detail perencanan berdirinya Pasar Tumenggungan. Termasuk keberadaan eskalator sebagai salah satu fasilitas pasar. Semua itu di luar jangkauan dirinya, sebab dia adalah orang baru di lingkungan Disperindag Kebumen.

"Konsepnya bagus, ternyata begitu diterapkan tidak cocok," jelas Haryono, Selasa (9/7).

Baca Juga: Menkumham Tanda Tangan Traktat Internasional tentang Sumber Daya Genetik dan Pengetahuan Tradisional

Baca Juga: Tim Basket DIY Optimistis Raih Emas PON XXI

Baca Juga: Agustinus Sulistio Perjuangkan Buruh Kopi Menjadi Petani Kopi di Perbukitan Menoreh, Keuntungan Terasa, Kopi Menoreh pun Kini Lebih Dikenal

Haryono mengatakan, ada beberapa alasan sehingga eskalator kurang tepat jika berada di pasar tradisional. Seperti menyangkut perilaku, barang jualan hingga segmen usia dan latar belakang masyarakat yang datang ke pasar.

Berbeda halnya ketika eskalator berada di sebuah swalayan atau mall. "Pasar tidak sama dengan mall. Di sana barang kering. Lah di pasar itu jualan macam-macam. Habitnya beda," katanya.

Haryono menjelaskan, banyak konsekensi yang harus ditanggung ketika eskalator pasar terus beroperasi. Utamanya kendala biaya listrik dan perbaikan alat. Oleh karena itu, pihaknya selaku dinas teknis akan mengkaji keberadaan eskalator di Pasar Tumenggungan.

"Maintanance dan listrik paling tidak satu bulan harus. Anggaran itu bisa buat yang lain. Ketika anggaran pemeliharaan tidak tersedia repot. Retribusi pasar tidak cukup," jelasnya.

Baca Juga: 1.500 Partisipan Ikut Konferensi AAS di UGM, Peserta dari 43 Negara, Rektor Ova Emilia Bangga Dipilih Jadi Tuan Rumah

Baca Juga: Masih Ada Waktu Dua Minggu, Coklit Tiga Kapanewon di Gunungkidul Sudah 100 Persen

Baca Juga: Ni Made Dwipanti, Perempuan Pertama Kepala Bappeda DIY, Pagi Ini Dilantik Gubernur HB X, Kekosongan Banyak Jabatan Masih Terjadi

Sebelumnya, pedagang maupun pengunjung Pasar Tumenggungan mengeluhkan buruknya sejumlah fasilitas pasar. Salah satunya tangga berjalan atau eskalator yang telah lama tak beroperasi. Mereka cukup menyayangkan keberadaan eskalator sebagai fasilitas sekaligus daya tarik pasar justru tak berfungsi optimal.

Pedagang Lantai 2 Pasar Tumenggungan, Fathurohman, 30, mengatakan, dirinya tak mengetahui persis penyebab matinya eskalator pasar. Dia hanya mengamati eksalator tersebut beroperasi normal hanya tiga tahun pasca peresmian pasar.

"Sudah lama banget mati. Tidak tahu itu rusak atau bagaimana, saya kurang begitu paham," ungkapnya.

Fathurohman berharap, matinya eskalator di Pasar Tumenggungan segera mendapat perhatian. Menurutnya, eskalator merupakan fasilitas penting terutama bagi para penyandang disabilitas, lansia maupun ibu hamil.

Tak hanya itu, keberadaan tangga jalan juga akan memberikan nilai lebih terhadap pasar tradisional. "Kalau bisa ya nyala. Biar yang datang itu nyaman. Tidak kapok ke pasar," bebernya. (fid)

Editor : Heru Pratomo
#kebumen #Pasar Tumenggungan #KUKM #Disperindag #eskalator