Lebih-lebih, bangunan itu masuk dalam kategori bangunan cagar budaya (BCB) yang sudah berdiri sejak 12 Mei 1874.
Dulunya, bangunan itu digunakan sebagai sekolah bagi calon pegawai pamong praja yang dibuka pada 1878.
Dalam perjalanannya, sekolah tersebut akhirnya menjadi Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA).
Itu berarti ada catatan sejarah panjang yang tercipta dari sebuah bangunan tersebut.
Pengalihfungsian bangunan itu sudah mencuat sejak masa kepemimpinan AKBP Yolanda Evalyn Sebayang, Kapolres Magelang Kota periode sebelumnya.
Bangunan tersebut kini benar-benar dikembalikan dengan semestinya.
Ada berbagai catatan sejarah tentang Mosvia. Keberadaan museum itu, diharapkan dapat menjadi area publik.
Dengan begitu, Alun-Alun Kota Magelang memiliki wajah yang lebih menarik.
Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana menjelaskan, sebelumnya bangunan itu merupakan hoofdenschool atau sekolah bagi calon pegawai pamong praja yang dibuka pada 1878. Pendirian sekolah itu, bebarengan dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Belanda, yakni Politik Etis.
Awalnya, pendidikan tersebut tidak bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat.
Tetapi, memenuhi kebutuhan tenaga kerja rendah yang murah dan terampil.
"Lalu, dibuka sekolah itu. Dan siswanya merupakan anak dari priyayi, pangeran, dan bupati," bebernya saat ditemui, Minggu (30/6/2024).
Anak-anak dari kalangan tersebut dinilai cenderung lebih santun dibanding anak lainnya.
Sebab, sebagian besar dari mereka sudah dibekali dengan pelajaran tata krama, bahasa, dan pelajaran lain.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, pemerintah Hinda Belanda juga membangun gedung Kweekschool Voor Inlandsche Ambtenaren atau sekolah calon guru untuk Holland Indische School (HIS).
Yang saay ini difungsikan sebagai kantor Disdukcapil Kabupaten Magelang.
Sekolah itu, lanjut dia, merupakan sekolah setingkat SD, tapi khusus untuk pribumi.
Menjelang tahun 1900-an, baik Hoofdenschool maupun Kweekschool ditutup oleh pemerintah Hindia Belanda.
Karena mutu pendidikan yang tidak memenuhi harapan. Namun, penyebab utamanya karena kekurangan tenaga guru.
Sebagai pengganti dari Hoofdenschool, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Opleiding Schoolen Voor Indlansche Ambtenaren (OSVIA).
Sekolah tersebut menempati gedung bekas Kweekschool. Sebagai sekolah calon pamong praja pribumi dengan masa belajar selama lima tahun.
Namun, mulai 1908, masa belajarnya ditambah menjadi tujuh tahun. Umumnya, siswa yang diterima berusia 12-16 tahun.
Sedangkan pada 1927, Kweekschool dihidupkan kembali dan seluruh cabang OSVIA digabungkan menjadi MOSVIA yang berpusat di Magelang.
Baca Juga: Tenaga Pendidik di Kulon Progo Main Judi Online, Siap-Siap Kena Sanksi Berat
Tujuannya agar difokuskan dalam satu tempat.
Sekolah tersebut memiliki tujuan yang sama dengan OSVIA.
Yakni mendidik calon pamong praja pribumi. Pada 1930-an, MOSVIA mencapai masa kejayaan.
Lantaran ada beberapa tokoh masyhur yang pernah mengenyam pendidikan di sana.
"Seperti Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, Adisucipto, hingga Urip Sumoharjo," katanya.
Bangunan bekas Mako Polres Magelang Kota itu, kata dia, memang menyimpan sejarah yang panjang.
Itu menandakan bahwa Kota Magelang menjadi pusat missie atau zending yang turut berpengaruh terhadap berdirinya sekolah sekolah berorientasi barat.
Menurutnya, langkah pengalihfungsian bangunan itu menegaskan kembali bahwa kawasan Alun-alun Kota Magelang menjadi situs budaya yang kompleks.
"Nanti akan kami petakan (beberapa bagiannya). Termasuk literasi pendidikannya yang akan menyatu dengan perpustakaan," bebernya.
Bagus akan terus berinovasi dengan museum yang dikonsep sebagai museum tumbuh.
"Kalau ada yang baru lagi (temuan sejarah), akan kami tambah. Tidak hanya sekadar (sejarah) yang dipajang, tapi nanti kami akan coba untuk membuat audiovisual," sambungnya.
Bangunan itu resmi menjadi Museum Mosvia pada Sabtu (29/6/2024).
Selain menyimpan arsip sejarah Mosvia, museum tersebut sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan Polri dengan masyarakat. Karena berada di kompleks Polres Magelang Kota.
Wakapolres Magelang Kota Kompol Budiyuwono Fajar Wisnugroho menuturkan, rencana alih fungsi bangunan mako polres menjadi museum, sudah mencuat sejak lama.
"Kami ingin museum ini menjadi tempat edukasi dan literasi kepada masyakarat," ujarnya.
Dia menyebut, untuk masuk ke museum tersebut tidak dipungut biaya.
Harapannya, Museum Mosvia dapat terus berkembang dan memiliki banyak koleksi sebagai bahan edukasi kepada masyarakat.
Karena saat ini, koleksinya masih berkaitan dengan polisi.
Selain itu, ada pula koleksi yang menceritakan soal awal mula pembangunan gedung Mosvia. Termasuk tokoh-tokoh yang pernah menempa pendidikan di Mosvia.
"Harapannya (museum ini) dapat mengeratkan hubungan Polri dengan masyarakat karena banyak yang menilai kalau kantor polisi itu cenderung kaku," imbuhnya.
Editor : Bahana.