PURWOREJO - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Hasto Wardoyo hadir dalam kegiatan sinergi dan kolaborasi tenaga lini lapangan Program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting di Purworejo, Jumat (21/6).
Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 di Pendopo Kabupaten Purworejo. Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsosdaldukkb) Purworejo Ahmat Jainudin menyampaikan, kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan evaluasi dari hasil program penurunan stunting melalui penguatan komitmen pengelolan tenaga lini lapangan.
Selain itu, untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen tenaga lini lapangan terhadap penurunan stunting, memperkuat partisipasi aktif tenaga lini lapangan dalam implementasi program.
Baca Juga: Bikin Kotor, Banyak Sampah Berserakan Dalam Laga Denmark vs Inggris di Frankfurt!
"Dan, meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menurunkan angka stunting," ujarnya Jumat (21/6).
Dikatakan, kegiatan tersebut diikuti oleh 650 orang terdiri tadi tim percepatan penurunan stunting, dinas atau instansi terkait Program Bangga Kencana, camat se-Kabupaten purworejo, bapak asuh anak stunting, dan seluruh tenaga lini lapangan baik penyuluh KB hingga kader KB se-Kabupaten purworejo.
Jainudin menyampaikan, capaian kinerja Bangga Kencana di Kabupaten Purworejo antara lain, angka prevalensi kontrasepsi modern (Modern Contraceptive Prevelance Rate/mCPR) dari target 62 persen saat ini sudah tercapai 60,73 persen, target metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) 34,1 persen sudah teralisasi 22,98 persen, target unmeet need 16,1 persen sudah tercapai 11,45 persen.
Baca Juga: Saat Pilkada Gunungkidul Jumlah TPS Jadi 1.353, Pemilih saat Pemilu Lalu Digabung
Baca Juga: Bawaslu Siapkan Antisipasi, Sleman Masuk 15 Kabupaten Terawan saat Pilkada
"Target perluarsan KB di fasilitas kesehatan sebesar 60 faskes tercapai 64 faskes, fasilitas kesehatan tingkat pertama 87 persen sekarang sudah 100 persen, pemenuhan kebutuhan alat dan obat kontrasepsi 100 persen dari 60 fasekes sudah terpenuhi," ungkapnya.
Kemudian, jumlah kelompok bina keluarga balota dari 494 desa dan kelurahan sudah terbentu 445, jumlah keluarga melaksanakan pengasuhan pendampingan dari target 18. 346 terealisasi 21.916 keluarga, keluarga bina keluarga lansia target 99 sudah terpenuhi 79.
Selanjutnya, jumlah kampung KB dari 494 desa dan kelurahan sudah terbentik 487 kampung KB dan sisanya masih berproses. "Kami sangat berharap dukungan dari berbagai pihak termasuk BKKBN agar di 2024 ini semua dapat tercapai," ujar Jainudin.
Baca Juga: Terdampak Proyek Tol Jogja-Solo, SD Negeri Nglarang Ingin Langsung Pindah ke Lokasi Baru
Sementara, Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo sangat mengapresiasi atas capaian angka-angka tersebut. Menurutnya, angka tersebut sangat bagus dan luar biasa. "Itu berkat kerja keras dari para kader. Tanpa mereka program-program tersebut tidak akan berjalan," kata dia.
Menurut Hasto, yang memaknai kesuksesan program BKKBN adalah para kader, tim pendamping desa, bidan, PKK, hingga semua pamong desa yang ada di bawah.
"Saya telah mengusulkan pada pemerintahan baru nanti agar tim pendamping keluarga, kader-kader yang ada di desa atau kelurahan dapat diberi (honor) yang lebih dari yang lalu," imbuhnya.
Bupati Purworejo Yuli Hastuti menyampaikan, Program Bangga Kencana menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi berbagai permasalahan terkait keluarga dan kependudukan, termasuk stunting.
Baca Juga: Targetkan 2028 Jadi Pusat Fashion Dunia, API Minta Pemprov Gencarkan Promosi Tekstil DIY
Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga melalui pengendalian kelahiran, peningkatan kesejahteraan keluarga, serta pemberdayaan dan perlindungan anak.
Dia mengungkapkan, stunting merupakan salah satu tantangan besar yang harus dihadapi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurut Survey Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting di Kabupaten Purworejo masih cukup tinggi yakni 20,6 persen di 2023.
"Angka tersebut sudah mengalami penurunan 0,7 persen dari 2022 sebesar 21,3 persen," katanya.
Menurutnya, tingginya angka stunting tersebut perlu penanganan lebih keras dan cerdas. Stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi yang berdampak pada masa depan anak.
Baca Juga: Saat Pilkada Gunungkidul Jumlah TPS Jadi 1.353, Pemilih saat Pemilu Lalu Digabung
Yuli mengatakan, dalam percepatan penurunan stunting perlu sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak baik dari pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Peran tenaga lini lapangan merupakan ujung tombak karena langsung berinteraksi dengan masyarakat, memberikan edukasi, dan mengawal pelaksanaan program di lapangan.
Berkat sinergi antara BKKBN, OPD KB, penyuluh KB dan kader IMP (institusi masyarakat pedesaan) menghasilkan keberhasilan penurunan angka kelahiran (TFR) dari 2,11 anak per wanita usia subur di 2022 menjadi 1,16 anak per wanita usia subur di 2023.
Editor : Heru Pratomo