MAGELANG - Penyembelihan hewan kurban di Kota Magelang kini semakin mudah dan higienis berkat penggunaan mesin restraining box. Banyak warga yang kini meminta bantuan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kota Magelang untuk menyembelih hewan kurban mereka, terutama sapi.
Kepala Tata Usaha (TU) UPT RPH Kota Magelang Kushendarto Widhi Nugroho mengatakan, restraining box digunakan untuk merebahkan sapi agar memudahkan proses penyembelihan dan memastikan kebersihan daging yang dihasilkan.
"Kami punya dua alat itu (restraining box). Pengadaan dari dana alokasi khusus (DAK) tahum 2019," kata dia di kantornya, Senin (17/6/2024).
Proses penyembelihan dengan restraining box dimulai dengan menggiring sapi ke dalam mesin tersebut. Setelah masuk, kepala dan kaki sapi diikat agar tidak berontak.
Ketika posisinya sudah pas, bodi utama restraining box dibuka dan sapi siap disembelih. Petugas RPH akan menyembelih sapi tersebut, sementara warga dapat membacakan doa.
Widhi menuturkan, ada sejumlah kelebihan saat menyembelih hewan kurban menggunakan mesin restraining box.
Selain memudahkan penyembelihan, dagingnya lebih bagus dan higienis.
"Kalau (menyembelih) di bawah (tanah, Red), akan memberontak dan membuat memar," ujarnya.
Mesin restraining box mengurangi risiko memar dan mampu menampung sapi dengan berat hingga 500 kilogram.
Proses penyembelihan dengan restraining box juga lebih cepat, memakan waktu kurang dari 10 menit. Ini mulai dari awal memasukkan sapi ke dalam mesin hingga jagal selesai memotong kepalanya.
Selama Idul Adha, RPH Kota Magelang menyembelih 31 ekor sapi dan enam ekor kambing
Selama Idul Adha, ada sebanyak 31 ekor sapi dan enam ekor kambing yang disembelih di RPH Kota Magelang. Pada Senin (17/6/2024) ada 9 ekor sapi dan seekor kambing.
Lalu, pada Selasa (18/6/2024) ada 14 ekor sapi dan lima kambing yang disembelih.
Kemudian, pada Rabu (19/6/2024) ada tujuh ekor sapi dan Kamis (20/6/2024) hanya ada seekor sapi.
Jumlah hewan kurban yang disembelih tahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya pada periode yang sama.
"Lebih banyak saat pandemi. Karena mungkin tidak diperbolehkan berkerumun, jadi lebih milih dipotong di RPH," jelasnya.
Kendati menurun dari segi jumlah, intensitas penyembelihan sapi selama Idul Adha tetap lebih tinggi dibanding hari biasa.
"Tapi memang (restraining box) lebih sering dipakai saat Idul Adha. Kalau sehari-hari, ya manual. Biasanya kan dibuat bakso, katanya lebih bagus dipotong manual," terangnya.
Sementara itu, Pengurus Majelis Ta'lim 521 Cacaban Kota Magelang Bayu Swargadi mengaku, sudah delapan tahun ini melakukan penyembelihan sapi di RPH Kota Magelang.
"Lebih higienis dan sesuai ajaran agama karena memang ditangani oleh ahlinya," katanya.
Tahun ini, Majelis Ta'lim 521 Cacaban menyembelih delapan ekor sapi. Lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya, yang berjumlah 12 ekor sapi.
Begitu selesai disembelih dan dipotong-potong oleh RPH Kota Magelang, daging sapinya akan dibagikan kepada sahibul kurban serta warga setempat. (aya)
Editor : Winda Atika Ira Puspita