MAGELANG - Seniman asal Bali bernama I Made Arya Dwita Dedok tampak luwes menggoreskan kuas dan tinta pada kanvas berukuran 2 x 1,5 meter.
Di tengah lalu-lalang kendaraan, ia tetap fokus. Apalagi melukis secara on the spot bukanlah kegiatan yang asing bagi dirinya.
Kegiatan itu merupakan rangkaian dari aksi seni kejadian Catus Pata.
Menurut masyarakat Bali, Catus Pata merupakan konsep tradisional tentang perempatan jalan yang digunakan sebagai pusat pertumbuhan sebuah wilayah.
Dedok mengawali aksinya dengan berjalan di trotoar Jalan Pemuda (Pecinan). Begitu lampu APILL berwarna merah, dia melakukan happening art atau aksi seni di zebra cross sembari menaburkan bunga mawar.
Aksi itu dilakukan sampai di Tugu Adipura. Setelah itu, barulah dia berjalan menuju depan gapura Pasar Rejowinangun dan bersiap untuk melukis secara on the spot.
Seniman lain turut mengiringi Dedok melukis dengan kidung puisi.
Dia mengatakan, aksi seni ini dalam rangka mempersembahkan sesuatu untuk alam lewat kesenian. Di Bali, Catus Pata dilakukan dengan mengelilingi sebuah perempatan dengan berjalan kaki untuk menyatukan energi positif kepada lingkungannya.
"Dan mempersembahkan sesuatu agar masyarakat sini semakin aman tenteram dan loh jinawi. Khususnya di Kota Magelang menjadi maju, sehat, dan bahagia," katanya usai melukis, Senin (10/6/2024).
Konsep Catus Pata merupakan upaya masyarakat dalam penataan tata ruang yang menampung atau menjadi simpul-simpul energi alam dengan wilayah sekitar. Seperti fasilitas publik, pemukiman, pusat kegiatan sosial kemasyarakatan, dan pusat perdagangan atau pasar.
Itulah mengapa kegiatan tersebut diadakan di perempatan Pasar Rejowinangun, Kota Magelang. Lokasi itu merupakan salah satu perempatan yang mengandung energi alam arah mata angin yang membuatnya selalu menjadi pusat keramaian di Kota Magelang.
Dia melanjutkan, Catus Pata atau ruwat bumi ini merupakan tradisi yang kaya akan nilai-nilai lokal.
Sehingga hal itu menjadi penting untuk menjaga keselarasan hidup bersama. Baik dalam hubungan antarsesama manusia maupun hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Dedok berharap, kegiatan serupa juga akan terus diadakan saban tahun.
"Saya sebagai seniman, harapannya bisa memberikan nilai-nilai positif kepada masyarakat tentang kebudayaan dan toleransi agar masyarakat bisa berterimakasih kepada bumi pertiwi," ujarnya.
Adapun objek yang dilukisnya menggambarkan lingkungan yang ada di Pasar Rejowinangun. Dengan lanskap alam dan bangunan yang menyertainya. Dalam lukisannya, ada gambar naga karena tahun ini merupakan tahun naga.
Apalagi kegiatan itu bertepatan dengan tradisi masyarakat Tionghoa yang dinamakan Peh Cun, merupakan sebuah tradisi penghormatan pada leluhur yang biasa dilaksanakan pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan China.
Lukisan itu, praktis menjadi koleksi tambahan bagi Dedok.
"Ini (lukisan) sebagai pertanda bahwa ada seniman (bernama) Dedok yang berkarya di Magelang. Bisa untuk pribadi, bisa untuk museum," lontarnya.
Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang Muhammad Nafi menambahkan, Catus Pata ini murni merupakan inisiatif dari Dedok.
"Ini (kegiatan) juga semacam ruwat bumi terkait dengan lingkungan alam, terutama air," jelasnya. (aya)
Editor : Winda Atika Ira Puspita