Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Penghayat Kepercayaan Kabupaten Magelang Topo Mutih di Tiga Situs Candi, Ritual Khusus Jelang Hari Lahir Pancasila

Naila Nihayah • Sabtu, 1 Juni 2024 | 03:40 WIB

 

RITUAL: Para pemeluk Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menggelar Topo Mutih dengan membawa obor menuju tiga situs candi di Desa Sengi.
RITUAL: Para pemeluk Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menggelar Topo Mutih dengan membawa obor menuju tiga situs candi di Desa Sengi.

RADAR JOGJA - Para pemeluk Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengikuti "Topo Mutih" di kompleks Candi Asu, Lumbung, dan Pendem, Desa Sengi, Dukun. Kegiatan ini dihelat dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila, 1 Juni.


Kegiatan diawali dengan kirab atau laku mbisu dan prasawya atau menjelajahi tiga situs candi. Lalu, dilanjutkan dengan genduren mutih dan sarasehan. Tidak hanya diikuti gabungan Penghayat Kepercayaan se-Kabupaten Magelang, tapi juga masyarakat adat serta pecinta atau pelestari budaya Nusantara.


Presidium DMD Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Kabupaten Magelang Kikiswantoro menuturkan, kegiatan ini sengaja dipusatkan di tiga situs candi karena dianggap suci. "Pancasila juga suci dan diadopsi dari naskah-naskah kuno kearifan lokal," bebernya, Jumat sore (31/5).


Dia mengatakan, Candi Pendem, Asu, dan Lumbung juga termasuk salah satu kearifan lokal. Setiap candi mempunyai fungsi ritual sendiri yang dihubungkan dengan siklus tanam padi. Pertama, Candi Lumbung yang konon dikenal sebagai tempat peribadatan sebelum masa panen tiba.


Kedua, Candi Pendem yang ditemukan terpendam di dalam tanah dan disebut Candi Pertimah atau Candi Bumi. Biasanya, saat warga hendak menggarap sawah, diadakan selamatan. Mereka memilih tempat di Candi Pendem.


Sementara Candi Asu sebetulnya dinamai 'aso' yang diambil dari bahasa Sansekerta 'aswa' berarti tempat peristirahatan. Menurutnya, Candi Asu sesungguhnya bermakna ngaso atau beristirahat. Namun, lebih dikenal sebagai Candi Asu.


Hal itulah yang membuat para Penghayat Kepercayaan mantap menggelar ritual di tiga situs candi itu. "Kegiatan ini namanya Topo Mutih. Mutih itu identik dengan suci. Kami kaitkan bahwa Pancasila itu suci dan candi juga suci," jelas Kikis.


Selain itu, Topo Mutih menjadi sarana untuk pembersihan diri saat Hari Lahir Pancasila. Para peserta membawa sesaji berupa satu tumpeng dan sembilan golong berwarna putih serta tanpa lauk-pauk. "Kalau (peserta) butuh minum, ya air putih saja dan tidak berbicara," tambahnya. (aya/laz)

Editor : Satria Pradika
#situs candi #Kabupaten Magelang #obor #Topo Mutih #Nusantara #Candi Asu #penghayat kepercayaan #pelestari budaya #Hari Lahir Pancasila #Candi Pendem #ritual khusus #Desa Sengi