RADAR JOGJA - Api Dharma Waisak 2568 BE/2024 yang diambil dari Sumber Api Abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan, disakralkan di Candi Mendut.
Api ini melambangkan semangat untuk menerangi. Umat percaya, sang Buddha datang ke dunia untuk membawa penerangan bagi semua makhluk. Api Dharma tiba di Kompleks Candi Mendut, Selasa (21/5) pukul 15.47. Usai diterima, api dharma diletakkan mengelilingi candi sembari dilanjutkan dengan menyalakan lilin pancawarna.
Setelah itu, para biksu dan umat Baddha dari berbagai sangha membaca doa paritta di depan altar secara bergantian. Kemudian, dilanjutkan dengan pradaksina, baik di halaman maupun di atas struktur candi sebelum menyemayamkan api dharma.
Wakil Ketua Panita Waisak Nasional Walubi 2568 BE/2024 Bhikkhu Dhammavuddho Thera mengutarakan, api ini dapat dikaitkan dengan semangat umat Buddha untuk menerangi. Disemayamkan di Candi Mendut karena merupakan salah satu candi Buddha, selain Candi Borobudur.
Dia menjelaskan, api dharma menjadi pengingat sekaligus simbol untuk penerangan dharma bagi makhluk-makhluk yang diliputi oleh kegelapan batin mereka. Terlebih, sang Buddha jug mengajarkan untuk bijaksana melihat loba dosa. Api dharma dipercaya untuk menghapuskan keadaan suram menjadi terang.
Juga membersihkan semangat dan menembus ketidaktahuan dalam kehidupan. Dengan penerangan dari api, akan menjadikan dunia ini terayomi oleh tuntunan dharma yang mampu melepaskan manusia dari belenggu penderitaan.
Bhikkhu Dhammavuddho menambahkan, api dharma juga diyakini sebagai lambang semangat yang merupakan sarana peribadatan dan ritual umat Buddha. Yang senantiasa melahirkan pencerahan dan penyadaran dalam kehidupan. Termasuk berupaya menjadikan kebersamaan dan kerukunan hidup beragama yang dilandasi cinta kasih serta welas asih.
Sementara itu, Ketua II DPD Walubi Jateng Tanto Soegito Harsono menuturkan, salah satu unsur yang tidak dapat terlepas dari manusia adalah api. "Api disemayamkan di Candi Mendut, bersama dengan air. Nanti Waisak dibawa ke Candi Borobudur," bebernya. (aya/din)