RADAR JOGJA - Tahun lalu para biksu yang mengikuti prosesi Thudong memulai perjalanan ribuan kilometernya dari Thailand. Kali ini mereka berjalan dari Semarang menuju tujuan akhir Candi Borobudur. Demi mengukuti peringatan Tri Suci Waisak 2568 BE/2024. Seperti apa ceritanya?
NAILA NIHAYAH, Mungkid
Pada momentum perayaan Waisak 2023 lalu, ada sekitar 32 biksu yang mengikuti prosesi thudong. Saat itu, mereka menempuh sekitar 2.600 km. Hanya saja tahun ini jarak perjalanannya lebih pendek, yakni sekitar 60 km.
Sebanyak 43 biksu dari empat negara memulai perjalanan spiritualnya dari Vihara Buddha Jayanti Wungkal Kasap, Semarang, Rabu (15/5). Hingga akhirnya tiba di tujuan akhir Candi Borobudur untuk bertemu dengan Sang Buddha Senin (20/5).
Thudong merupakan sebuah perjalanan dengan berjalan kaki dan melakukan beberapa praktik spiritual lainnya. Meski jarak tempuh lebih pendek, mereka mendapat pengalaman baru demi mencapai tujuannya. Setiap harinya, mereka berjalan lebih dari 10 km per hari.
Tradisi thudong yang dilakukan oleh para biksu ini menjadi satu upaya untuk belajar bersabar. Karena Sang Buddha mengatakan, kesabaran adalah praktik dharma yang paling tinggi. Selain itu juga mengkampanyekan toleransi beragama yang ada di Indonesia.
Prosesi ini mengusung tema 'Perjalanan dengan Kesadaran Keberagaman untuk Jalan Hidup Luhur, Harmonis, dan Bahagia'. Maknanya merujuk pada sebuah upaya untuk membangkitkan pemahaman atas proses perkembangan yang mengintegrasikan keberagaman dalam perjalanan hidup.
Kendati euforianya berbeda dengan tahun lalu, para biksu tetap mendapat sambutan hangat dari masyarakat di sepanjang perjalanan. Sambutan dan sapaan masyarakat menjadi suntikan semangat untuk mengiringi perjalanan mereka.
Orang tua, dewasa, hingga anak-anak, entah umat Buddha, Islam, Kristen, maupun lainnya, semua menyambut dengan ramah dan riang gembira. Tak jarang, mereka turut mengabadikan momen laku spiritual tersebut.
Baca Juga: Polresta Sambut Biksu Thudong di Perbatasan Magelang-Temanggung
Masyarakat juga antusias memberi makanan, minuman, sandal, bunga, hingga obat-obatan kepada para biksu. Polri, TNI, tenaga kesehatan, hingga organisasi masyarakat (ormas) senang hati mengikuti setiap langkah yang dilakukan para biksu.
Itu berarti kedatangannya masih menjadi momentum yang dinanti-nanti oleh masyarakat. Sebab, jarang-jarang mereka menjadi saksi di mana para biksu berjalan puluhan km demi mencapai tujuan akhir Candi Borobudur.
Pimpinan rombongan biksu thudong 2024 Bhante Kamsai Sumano Mahathera menambahkan, kali ini biksu yang mengikuti thudong lebih banyak dibanding tahun lalu. Sebagian besar sudah pernah mengikuti thudong di Indonesia. Mereka berasal dari empat negara yakni Thailand, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Namun ada tambahan satu biksu lagi berasal dari Korea.
Selama perjalanan, kata dia, ada banyak hal yang diperoleh. Banyak masyarakat yang bersiap di kanan-kiri jalan untuk memberikan makanan, minuman, maupun sandal. "Perjalanan 60 km itu kami tidak pernah kesepian. Anak-anak sekolah maupun pihak kecamatan, banyak yang mengundang untuk mampir," ujarnya (20/5).
Dia menyebut, masyarakat kali ini sudah lebih mengenal thudong. Mereka sengaja keluar dari rumah, sekolah, maupun kantor untuk menyambutnya. Hal itu semakin memupuk rasa persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
"Kami pernah mulai jalan jam 5 pagi. Kami kaget, ada masyarakat, tidak hanya dari umat Buddha, tapi mereka menghormati kami dengan memberi bunga. Berarti mereka sudah bangun sebelum jam lima" lontarnya.
Bhante Kamsai merasa pemberian dari masyarakat itu menjadi bekal para biksu agar tiba di Candi Borobudur dengan selamat. "Untuk prosesi thudong pada Waisak kali ini kami bahagia sepanjang 60 km," tambahnya.
Sebelum memulai perjalanan, para biksu bertekad melatih diri dan melepaskan diri dari kemelekatan. Atau segala sesuatu yang melekat di tubuh dan yang bersifat keduniawian. Hal itu sesuai dengan ajaran Sang Buddha.
Selama lima hari perjalanan, mereka singgah di sejumlah tempat. Baik vihara, kelenteng, maupun masjid. Dia mengakui tidak membawa modal apapun selama perjalanan. Dengan sambutan hangat yang diberikan, menjadi satu hal yang berarti bagi mereka.
Seorang biksu asal Thailand, Phraathikan Suphit mengaku baru kali ini mengikuti thudong ke Indonesia. Dia juga bangga dengan masyarakat di sepanjang jalan yang dilalui selama perjalanan menuju Candi Borobudur.
Bahkan dia baru kali pertama mengunjungi Indonesia. Dia sempat berpikir warga Indonesia yang didominasi oleh agama Islam khawatir akan mendapat masalah, termasuk kehadirannya yang tidak diterima dengan baik. Ternyata, hal itu hanyalah pemikiran yang tidak mendasar.
Menurutnya, masyarakat dari berbagai latar belakang agama justru menyambutnya dengan tangan terbuka. Bahkan, selama berjalan kaki para biksu mendapat pengamanan dari aparat TNI, Polri, dan lainnya. "Semua memberikan jalan dan masyarakatnya baik," sebutnya.
Kendati baru pertama melakukan prosesi thudong di Indonesia, dia kerap melaksanakannya di negara masing-masing. Namun tidak ada penyambutan khusus seperti yang dilakukan masyarakat di Indonesia. Sebab, prosesi itu menjadi makanan sehari-hari bagi warga setempat.
Terlebih, ritual thudong dianggap sebagai meditasi, sehingga masyarakat memberikan ruang kepada mereka agar lebih khusyuk dalam memanjatkan puja bakti. "Memang banyak yang tidak menyangka Indonesia akan menyambutnya dengan hangat," timpal Bhante Kamsai. (laz)