Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemuda Dusun Ngaran II Dapat Pesanan 500 Payung Lukis Jelang Waisak, Ada Payung Tiga Meter, Lukisan Burug Merak, hingga Simbol Buddha

Naila Nihayah • Minggu, 19 Mei 2024 | 14:30 WIB

 

 

ARTISTIK: Seorang pemuda di Dusun Ngaran II, Borobudur melukis dengan media payung. Nantinya, payung itu akan dimanfaatkan sebagai perlengkapan perayaan Waisak 2568 BE/20
ARTISTIK: Seorang pemuda di Dusun Ngaran II, Borobudur melukis dengan media payung. Nantinya, payung itu akan dimanfaatkan sebagai perlengkapan perayaan Waisak 2568 BE/20

RADAR JOGJA - Sejumlah pemuda yang tergabung dalam karang taruna Dusun Ngaran II, Borobudur kebanjiran pesanan payung lukis. Ratusan payung dengan berbagai ukuran itu nantinya akan digunakan sebagai dekorasi dan perlengkapan saat perayaan Waisak 2568 BE/2024 di Candi Borobudur.

Ketua Jejeg Art Borobudur Adi Pramuningtyas mengatakan, dua bulan lalu, ada pesanan kurang lebih 500 payung lukis dari panitia Waisak. Ukurannya bermacam-macam. Ada yang memiliki diameter 50 sentimeter, 70 sentimeter, 80 sentimeter, hingga yang terbesar adalah tiga meter.

Payung dengan diameter tiga meter itu berjumlah sembilan buah. "Tapi, paling banyak diameter 80 sentimeter. (Masing-masing payung) ada lukisannya. Mereka (panitia) mintanya ada burung merak Jawa, simbol buddha, bunga teratai, maupun lukisan nusantara," katanya saat ditemui, Jumat (17/5).

Nantinya, 500 payung itu akan dibagi di beberapa tempat. Tidak hanya di Candi Borobudur saja, tapi juga di Candi Pawon, Sungai Progo, mata air Progo, dan Candi Ngawen. Tentunya dengan kegiatan yang berbeda-beda.

Para pemuda itu, kata dia, hanya merakit dan melukis payungnya. Sementara bahan mentahnya berupa kain, dibeli dari Klaten. Hal itu dilakukan demi mengefisienkan waktu. Karena hanya diberi waktu dua bulan sebelum digunakan saat perayaan Waisak.

Penggunaan bahan dasar berupa kain itu agar tidak sobek dan mudah saat dilukis. Bahkan, bahannya cenderung tahan terhadap hujan dan panas. "Sebetulnya kami sudah mendapat pesanan payung lukis untuk Waisak sejak 2022," papar Adi.

Pada 2022 lalu, mereka hanya mendapat pesanan sekitar 100 buah. Kemudian, pada 2023, bertambah menjadi 300 buah. Sementara tahun ini, kembali bertambah menjadi 500 buah. Adapun bahan-bahan yang digunakan berupa bambu, kayu, kain, benang wol, cat tembok maupun minyak, dan lem kayu.

Adi mengaku, tidak tahu menahu awal mula mereka mendapat pesanan payung lukis tersebut. Yang pasti, lanjut dia, saat itu Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) hendak mengangkat dan merangkul para pelaku UMKM lokal akibat hantaman pandemi Covid-19.

 

Dia menceritakan, para pemuda Dusun Ngaran II sudah mendirikan Jejeg Art sejak 2018 silam. Terinspirasi dari relief di Candi Borobudur, mereka memiliki ide untuk menghias payung tradisional sebagai salah satu daya tarik wisata.

Terlebih, masih banyak masyarakat yang kurang memperhatikan dan melestarikan sejarah payung di kawasan Candi Borobudur. Upaya mereka, lanjut Adi, lambat laun bisa menggerakkan wisata edukasi dengan menghias payung tradisional.

Dia menyebut, Dusun Ngaran II yang lekat dengan julukan 'kampung homestay' itu, menjadi media untuk promosi. Sejumlah tamu yang menginap di homestay Dusun Ngaran II, juga terkadang berminat untuk melukis payung. Mereka bisa membawanya pulang. "Biasanya, Sabtu dan Minggu, kami bisa memberikan edukasi untuk melukis payung tradisional. Mereka dari kelompok pelajar dan keluarga. Hari biasa juga bisa, tapi harus reservasi terlebih dahulu," paparnya.

Dia menyebut, biaya membuat satu payung biasa ukuran 50 sentimeter sekitar Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu. Sedangkan untuk membuat satu payung raksasa dibutuhkan biaya Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. (aya/pra)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Magelang #Waisak 2024 #Jejeg Art Borobudur #Dusun Ngaran II borobudur