RADAR JOGJA – Sejak awal tahun hingga 2 April 2024, tercatat ada 152 kasus demam berdarah dengue (DBD). Dari jumlah tersebut, 11 di antaranya dikategorikan sebagai suspek dengue shock syndrome (DSS). Malangnya, seorang anak dinyatakan meninggal dunia akibat suspek DSS pada Maret lalu.
Pada kondisi DSS, aliran darah ke seluruh jaringan tubuh akan menurun. Sehingga terjadi kekurangan oksigen (hipoksia) dan penderitanya tidak sadar. Hal tersebut dapat menyebabkan kejang, kerusakan pada hati, jantung, otak, paru-paru, penggumpalan darah, hingga kematian.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinkes Kabupaten Magelang Budi Suprastowo menuturkan, seorang anak yang dinyatakan suspek DSS itu merupakan warga Kecamatan Tempuran dan masih berusia enam tahun. “Sementara 10 anak lainnya masih bisa mendapatkan pertolongan medis,” ujar dia di kantornya.
Dia mengatakan, apabila DBD tidak segera ditindak dapat mengakibatkan suspek DSS. Biasanya, gejala DBD yang umum terjadi, antara lain demam tinggi yang mendadak pada hari kedua hingga ketujuh. Lalu, terdapat bintik merah pada kulit, penurunan kadar trombosit, dan lainnya.
Hanya saja, dia mengakui, gejala tersebut kerap diabaikan dan harus mendapat pertolongan. Apalagi perubahan suhu tubuh yang mendadak turun, lalu kembali tinggi tergolong cepat. “Banyak orang tua yang menyepelekan hal itu. Dianggap hanya demam biasa. Ketika sudah tidak sadar, baru dibawa ke rumah sakit,” bebernya.
Sebetulnya, DBD ini menyerang hampir merata di semua kategori usia. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua. Namun, kata dia, yang paling banyak adalah remaja. Bahkan, ada orang tua yang berusia 50 tahun juga terkena DBD.
Dia menambahkan, jumlah kasus DBD hingga awal April ini meningkat dibanding tahun lalu pada periode yang sama. “Januari sampai Maret 2023, ada sekitar 142 kasus DBD. Itu berarti saat ini grafiknya naik dibanding tahun lalu,” imbuhnya.
Di Purworejo, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Kesehatan Masyarakat Dinkes Purworejo Nursalim menyebutkan, nyamuk yang menyebabkan penyakit tersebut merupakan nyamuk aedes aegypti memiliki ciri warna hitam dan berbintik putih. "Biasanya, nyamuk tersebut hidup di kebun dan menggigit pada pagi atau sore hari," ujarnya.
Dia mengimbau kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan. Seperti, melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yaitu membersihkan genangan air di sekitar rumah. "Jika nyamuk membawa virus demam berdarah dan bertelur di genangan air, telurnya juga akan menjadi pembawa virus yang sama," katanya.
PSN dengan 3M plus yaitu menutup, menguras, mengubur, dan mendaur ulang barang yang berpotensi sebagai sarang nyamuk secara berkala. Selain itu, melakukan gerakan satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik). Yaitu, satu rumah ada satu orang yang bertanggung jawab dan memastikan tidak ada satupun genangan yang bisa untuk berkembang biak nyamuk.
Mengingat, kasus DBD di Kabupaten Purworejo hingga minggu ke-13 tahun ini sudah mencapai 572 kasus. Dengan rincian 557 demam dengue (DD) dan 15 kasus di antaranya DBD. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun lalu di waktu yang sama. (aya/han/pra)