KULON PROGO - Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Tahun 2025 yang digelar di Aula Adikarta, Kamis (28/3).
Diikuti berbagai elemen masyarakat yang mengusulkan dan menyarankan pembangunan di Kulon Progo.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah pertanyaan terkait keberlanjutan Pelabuhan Tanjung Adikarta yang terletak di Kapanewon Temon.
Salah satu yang mempertanyakan terkait keberlanjutan pelabuhan itu, adalah perwakilan Karang Taruna Kulon Progo Eka Herdi Nugraha.
Ia menanyakan terkait keberlanjutan dan keberlangsungan pelabuhan usai operasinya tak berjalan optimal.
"Ini berangkat dari kekhawatiran kami tentang pelabuhan yang terkesan tak selesai," ucap Eka, usai musrenbang berhasik digelar.
Eka menjelaskan, dirinya merasa prihatin akibat pelabuhan tak bisa digunakan seperti peruntukannya.
Padahal, keberadaanya telah menelan banyak uang negara, dan tak bisa berhasil beroperasi secara maksimal.
Menurutnya, keberadaan pelabuhan yang bisa bejalan optimal, mampu mendukung perekonomian sekitar.
Tak hanya untuk orang yang bekerja sebagai petugas pelabuhan. Namun juga yang bekerja disekitar lingkungan pelabuhan.
Seperti penjual makanan, penyewaan rumah, bahkan nelayan yang nantinya singgah di sana.
"Akan ada multiplier effect dari adanya pelabuhan apabila berjalan dengan normal," ucap Eka.
Eka menjelaskan, apabila pelabuhan ditujukan sebagai tempat para nelayan berkumpul. Maka nelayan dapat melaut dengan aman.
Selain itu, dimungkinkan investor masuk untuk membiayai usaha nelayan.
Sehingga, nelayan tak hanya melaut selama beberapa jam karena terkendala mesin dan kapal miliknya.
Nelayan dapat melaut selama beberapa hari dengan kapal ukuran sedang.
Menurut Eka, sangat disayangkan apabila pelabuhan tak berfungsi selayaknya.
Melihat berbagai potensi di laut selatan Kulon Progo, yang harus terus digali.
Potensi ikan tangkap seperti tuna bisa terwujud apabila pelabuhan dan dorongan investasi dapat dilaksanakan.
Menanggapi pernyataan Eka, Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan dan Sumber Daya Alam Bambang Tri Budi Harsono menjelaskan, perihal pelabuhan yang cukup memprihatinkan.
Dirinya tak menampik bahwa sejak tahun 2006 pelabuhan tak bisa beroperasi optimal.
"Tercatat tahun 2006, cukup memprihatinkan karena tak optimal," ucap Bambang.
Bambang menjelaskan, sejak tahun 2006 terdapat berbagai sarpras mengalami kerusakan.
Ia mencontohkan tetrapod yang tenggelam, akibat dibiarkan begitu saja.
Padahal penggunaan tetrapod tergolong berfungsi baik dalam memecah ombak laut selatan.
Bambang menuturkan, sebelum musrenbang digelar. Pelabuhan Tanjung Adikarta telah dikunjungi oleh Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Panjaitan.
Dalam kunjungannya lubut meminta pelabuhan untuk segera dioperasikan dengan menyusun ulang konsep operasional.
"Perintahnya kemarin ke Kementerian Perikanan untuk membuat desain baru," ucap Bambang.
Bambang menjelaskan, pembuatan desain baru diperuntukkan untuk operasional pelabuhan tanpa merubah fasilitas yang telah dibangun hingga saat ini.
Adanya angin segar itu, membuat harapan baru baginya, agar Pelabuhan Tanjung Adikarta segera terealisasi untuk beroperasi. (cr7)
Editor : Amin Surachmad