Namun, Kepala Desa Karanglundo, Supangat angkat bicara dan meluruskan informasi tersebut.
Dijelaskan gunung tersebut merupakan gunung Bledug Kramesan yang memang sudah ada puluhan tahun yang lalu. Bahkan sebelum Supangat lahir.
Bledug Kramesan yang terletak di antara Desa Kalanglundo dan Desa Sendangrejo, diapit oleh area persawahan dan rawa.
Aktivitasnya mirip dengan Bledug Kuwu dan Bledug Cangkring, yaitu mengeluarkan letupan-letupan kecil dan lumpur.
Pasca gempa di Bawean pada 22 Maret 2024, Bledug Kramesan memang mengalami sedikit peningkatan aktivitas, namun tidak memuntahkan lumpur sebanyak Bledug Cangkring.
Dilansir dari Radar Kudus, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa Bledug Kramesan merupakan mud volcano (gunung lumpur) yang sudah ada sejak lama.
Gempa di Bawean menyebabkan sistem migrasi hidrokarbon dan lumpur menjadi lebih aktif, sehingga mencari jalan keluar melalui Bledug Cangkring, bukan Bledug Kramesan.
Bledug Kramesan memiliki ketinggian 25 meter dan terbentuk dari material mud diapir yang lolos ke permukaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhinya meliputi amblesan, kecepatan pengendapan, lapisan plastis, dan lain sebagainya.
Fenomena "gunung baru" di Grobogan pasca gempa bukanlah gunung baru, melainkan Bledug Kramesan, gunung lumpur yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
Gempa di Bawean meningkatkan aktivitas Bledug Kramesan, namun tidak signifikan. Masyarakat diimbau untuk tidak panik.