Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sudah Tak Diproduksi dalam Jumlah Besar, Bulan Ramadhan Permintaan Sarung Goyor Cap Botol Magelang Ini Terbang Makin Kencang

Naila Nihayah • Senin, 25 Maret 2024 | 21:01 WIB

 

TEKUN: Proses pembuatan sarung tenun cap botol terbang masih menggunakan alat tradisional. Tak heran jika prosesnya lama.
TEKUN: Proses pembuatan sarung tenun cap botol terbang masih menggunakan alat tradisional. Tak heran jika prosesnya lama.
MAGELANG – Selama Ramadhan, permintaan sarung goyor cap Botol Terbang semakin kencang dibanding hari biasa. Kendati begitu, produksi sarung ini tidak bisa digenjot.

Sebab proses produksinya masih menggunakan alat tradisional atau alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dioperasikan dengan tenaga manusia.

Suara gesekan kayu dan batang pemukul memenuhi ruang hampa di pabrik sarung goyor cap Botol Terbang.

Sejumlah ibu-ibu tampak serius dan tekun dengan aktivitasnya masing-masing.

Ada yang tengah menjemur benang yang baru saja diwarnai, memintal benang, hingga menenun sarung.

Dari situ, menandakan bahwa proses pembuatannya cukup rumit dan lama.

Sarung besutan dari industri rumahan di Kelurahan Potrobangsan, Magelang Utara ini memiliki motif dan corak yang tergolong eksklusif dan terbatas.

Lantaran sarung ini tidak diporduksi secara massal. Bicara soal kualitas, sarung ini menggunakan bahan baku dan pewarna terbaik.

Tidak heran jika harganya cenderung lebih mahal.

Perajin sarung goyor Umar Saleh Al Katiri mengutarakan, industri rumahan itu sudah ada sejak tahun 1950-an.

Dia merupakan generasi ketiga yang mewarisinya. Sementara nama Botol Terbang diyakini berasal dari kakek buyutnya.

“(Keistimewaan) hampir sama dengan sarung lain, mungkin karena (proses pembuatan) lama,” katanya, Senin (25/3/2024).

Dia menuturkan, seluruh proses pembuatan sarung goyor menggunakan peralatan tradisional.

Sehingga produksinya masih terbatas. Proses pengeringan pun memanfaatkan cahaya matahari.

Umar pun tidak bisa memaksa karyawannya untuk memproduksi dalam jumlah yang banyak. Hanya sebatas kemampuan masing-masing.

Kendati begitu, bahan baku hingga pewarna sintetis yang digunakan memiliki kualitas terbaik.

Dibanding sarung dari daerah lain, motif yang dimiliki sarung goyor ini tergolong khas.

Seperti motif prapatan, tejo, kolong satu, kolong dua, sidomukti, putihan, kotak, dan lainnya. Bahkan, benang yang digunakan diimpor dari China.

Proses pembuatan satu lembar kain, lanjut dia, membutuhkan watu rata-rata 1,5 sampai 2 hari.

Satu minggu bisa menghasilkan 2-3 kodi sarung yang dikerjakan sekitar 20 pekerja.

Proses pembuatannya pun terbilang rumit. Membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran agar menjadi selembar kain sarung yang layak jual.

Umar mengatakan, sarung goyor miliknya banyak dicari oleh penggemarnya.

Tidak hanya dari Indonesia saja, tapi sarung tersebut sudah diekspor hingga Timur Tengah.

Hanya saja, selama Ramadhan ini, dia fokus untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri saja.

Sebab, permintaannya mengalami peningkatan hampir 50 persen.

Bahkan, dia kerap menolak untuk produksi dalam jumlah banyak. Mengingat sarung yang diproduksi terbatas.

“(Permintaan) selama puasa meningkat. Pokoknya lebih kencang daripada hari biasa. Permintaan naik, tapi hasil tidak bisa naik. Puasa atau tidak, (produksinya) tetap 10-15 kodi per bulan” kata dia.

Lantaran masih mengandalkan sinar matahari untuk penjemuran, kata dia, cuaca juga berpengaruh terhadap proses produksi.

Dalam satu bulan, produksi sarung rata-rata mencapai 10-15 kodi. “Saya jual ke agen itu per kodi kisaran Rp 14 juta. Berarti per buah sekitar Rp 700 ribu-an,” sambungnya.

Sarung goyor ini hanya bisa dipasok di tiga toko. Yakni toko Bares dan Trio di kawasan Pecinan, Kota Magelang.

Serta satu toko lainnya di Muntilan. Jika ada toko lain yang menjualnya, itu berarti mereka mengambil dari tiga toko tersebut.

Sementara untuk ekspor, dia tidak menargetkan jumlahnya. Ketika ada produk yang sudah jadi, dia akan segera mengirimkannya.

Pemilik toko Bares Pecinan yang enggan disebutkan namanya mengaku, permintaan sarung goyor cap Botol Terbang ini cukup banyak.

Bahkan, dia kerap kekurangan stok. Sebab ketika dipasok 2 atau 3 kodi, kurang dari satu jam, sarungnya ludes terjual.

“Pesanan sudah banyak sedangkan barangnya tidak segampang itu,” akunya.

Dia menyebut, satu lembar kain sarung cap Botol Terbang ini dibanderol mulai harga Rp 750 ribu. Meski terbilang mahal, tapi peminatnya cukup banyak.

Mengingat penggemarnya dari kalangan menengah ke atas. “Ramadhan ini, stok sampai kurang-kurang kadang saya sudah dioyak-oyak sama pembeli,” imbuhnya. 

Editor : Bahana.
#Magelang #Sarung goyor #ramadhan