Setelah dilihat dari dekat, tampak para lansia menundukkan kepala.
Sedangkan bibirnya melafazkan setiap huruf dalam Al quran yang sengaja diletakkan di atas meja kecil.
Pemandangan yang cukup menampar. Meski usianya tak lagi muda, semangat untuk mengaji dan mencari pahala saat Ramadhan patut diacungi jempol.
Bahkan, mereka sengaja nyantri di Pondok Pesantren (Ponpes) Sepuh agar lebih berkonsentrasi penuh dalam beribadah.
Tidak hanya warga Magelang saja yang nyantri di sana, tapi juga dari luar daerah. Terlebih, ponpes itu sudah ada sejak lama.
Selain nyantri selama Ramadhan, puluhan lansia itu ada yang sudah nyantri bertahun-tahun.
Mukim di sana. Sesekali pulang saat ada kepentingan mendesak atau sekadar rindu anak-cucu.
Warga Windusari Arman, 72 mengaku sudah nyantri di ponpes sepuh sejak 2017. Saban Ramadhan, dia selalu ikut kegiatan yang ada di sana. Sementara tidurnya di ponpes putra.
“Yang saya inginkan, tambah ilmu, menghilangkan kebodohan, mencari kebajikan, dan bekal di akhirat nanti,” ucapnya saat ditemui, Minggu (17/3/2024).
Biasanya, Arman di ponpes sehari menjelang Ramadhan dan akan pulang sehari sebelum Lebaran.
Lantaran nyantri selama Ramadhan, aktivitasnya di ladang praktis berhenti sementara.
Baca Juga: Ini Bahaya Sering Mengonsumsi Minuman Manis Bagi Kesehatan Ginjal
Namun, hal itu bukan menjadi masalah besar. Mengingat keinginannya untuk nyantri terbilang tinggi.
Meski nyantri di usia senja, namun anak-anaknya tetap memberikan dukungan penuh terhadap Arman. Di hari keenam Ramadhan ini, sang anak pernah menjenguknya sekali.
“Kemarin tilik ke sini sama cucu. Terus dikasih uang juga untuk beli makanan. Karena hanya masak nasi saja, lauknya beli,” sebutnya.
Berbeda dengan Arman, warga Temanggung Sutiarsih, 71 sudah mukim di ponpes sepuh sejak 2013.
Sempat pulang untuk melaksanakan ibadah haji. “Senang di pondok sini, banyak teman. Kalau di rumah, tidak ada teman. Senangnya bisa ikut ngaji dengan bu nyai,” ungkap dia.
Selama mukim di ponpes tersebut, jiwanya terasa lebih tentram dan sejuk. Di sisi lain, Sutiarsih ingin lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sembari mencari bekal di akhirat kelak.
“Saya cucunya 9, cicitnya 2. Kalau kangen, ya kangen. Tapi, biasanya anak saya ke sini sekalian bawa cucu,” imbuhnya.
Sementara itu, Warga Mertoyudan Aziz Basuki, 49 menyebut, sang ibu sudah mukim di ponpes sepuh lebih dari 10 tahun lamanya.
Biasanya, ia akan menyempatkan diri menjenguk Sami, 70 sebulan sekali.
“Ibu saya mondok di sini atas keinginannya sendiri. Biar bisa mengaji setiap waktu dan ada banyak teman,” kata dia.
Keinginan sang ibu untuk nyantri di ponpes sepuh itu diutarakan selang beberapa bulan ayahnya meninggal dunia.
Sami ingin menambah ilmu dan amalnya. Termasuk mengaji setiap waktu tanpa adanya gangguan.
Sang ibu akan pulang ketika ada kepentingan keluarga. Bahkan, ibunya sudah nyaman berada di ponpes tersebut.
Pengasuh Ponpes Sepuh Putri Masjid Agung Payaman Magelang Arif Mafatihul Huda mengutarakan, ponpes sepuh ini dulunya diprakarsai oleh Kiai Siraj sekitar 1953.
Kala itu, banyak kiai yang mendirikan ponpes ataupun tempat mengaji untuk remaja.
Sementara tidak ada yang memikirkan hal itu untuk orang tua.
Atas dasar itu, Kiai Siraj mulai mengadakan ngaji bersama di Masjid Agung Payaman khusus untuk orang tua atau lansia. Lambat laun, forum tersebut mulai banyak pendatang dari luar daerah.
“Yang mengurusi pondok remaja sudah banyak sekali, tapi yang tua belum ada. Lalu, ada inisiatif untuk mendirikan ponpes sepuh,” jelasnya.
Di Ponpes Sepuh Payaman, ada santri tahunan dan khusus saat Ramadhan. Untuk santri tahunan atau mukim, kebanyakan berasal dari wilayah se-Eks Karesidenan Kedu.
Saat ini, jumlahnya lebih dari 50 santri sepuh. Sementara selama Ramadhan ini, ada lebih sari 100 santri. Rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun.
Selama Ramadhan, ada banyak kegiatan yang dilakukan. Hampir setiap waktunya adalah mengaji.
Karena para lansia itu nyantri sebagai bentuk pengabdian diri. Terutama untuk beribadah.
“Mereka ingin mendapatkan pahala karena di sini 24 jam isinya ibadah. Katakanlah mereka sudah rindu surga,” bebernya.
Bahkan, kata Huda, dengan fasilitas yang sangat minim, tidak membuat niat mereka luruh. Sebab, keterbatasan fasilitas membuat para lansia itu tinggal sementara di rumah-rumah warga setempat. Untuk makan pun, mereka harus mencarinya sendiri. Namun, biasanya di depan masjid banyak orang yang menjajakan makanan. (aya)
Editor : Bahana.