Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bajong Banyu, Tradisi Perang Air jelang Ramadan, Seperti Padusan, Bermakna Bersihkan Diri sebelum Beribadah Puasa

Naila Nihayah • Senin, 4 Maret 2024 | 12:30 WIB
SEMARAK: Meski hujan deras, tradisi Bajong Banyu di Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Mertoyudan tetap digelar untuk menyambut Ramadan.ISTIMEWA
SEMARAK: Meski hujan deras, tradisi Bajong Banyu di Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Mertoyudan tetap digelar untuk menyambut Ramadan.ISTIMEWA

RADAR JOGJA - Hujan deras tidak menyurutkan semangat warga Dusun Dawung, Banjarnegoro, Mertoyudan untuk menggelar tradisi bajong banyu, kemarin (3/2). Tradisi yang dilakukan dengan saling melempar air ini rutin dilaksanakan guna menyambut Ramadan.


Tradisi ini berlangsung di hamparan tanah lapang dan diikuti seluruh warga. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Mereka berkumpul demi mengikuti gelaran tersebut. Lantaran hujan deras, tradisi ini sempat ditunda beberapa saat.


Koordinator kegiatan Tri Setyo Nugroho mengutarakan, orang lain kerap menyamakan tradisi tersebut sebagai padusan. Namun, dikemas dan oleh warga agar menarik. Sehingga berbeda dengan lainnya. Tradisi ini mengandung makna membersihkan diri sebelum menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.


Rangkaian acara diawali dengan pentas beberapa kesenian daerah. Seperti tari jathilan, topeng ireng, hingga penampilan butho gedruk. Usai pentas, posesi bajong banyu diawali dengan pengambilan air oleh tokoh masyarakat dan perangkat desa setempat di Sendang Kedawung. Lalu disertai kirab.


Air dari sendang tersebut dibawa dengan sejumlah kendi menuju lokasi prosesi bajong banyu. Kemudian, air tersebut dituang ke dalam sebuah gentong. Selanjutnya digunakan untuk membasuh wajah satu persatu warga oleh sesepuh dusun. Setelah selesai, warga akan saling melempar air yang sudah disiapkan di dalam kantong plastik.


Gepeng, sapaan akrabnya mengatakan, prosesi dalam tradisi ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, tema yang diusung kali ini berbeda, yakni Memayu Hayuning Bawana. "Itu (tema) adalah salah satu filosofi dan ungkapan dari leluhur Jawa bahwasanya kita sebagai warga dan manusia harus senantiasa berbuat baik," katanya.

Dengan begitu, akan terjadi keharmonisan dalam berkehidupan. Pesan itulah yang hendak disampaikan kepada warga Dusun Dawung agar senantiasa hidup rukun dan damai. Selain itu, tradisi ini juga sebagai media pengingat kepada warga agar tetap melestarikan sumber mata air tersebut.


Bajong banyu ini sudah ada sejak 12 tahun yang lalu. Namun, tahun ini merupakan kali kesepuluh karena dua tahun mandek akibat pandemi. "Kalau padusan itu sudah lama ada di masyarakat. Tapi, kami mengemasnya dengan bajong banyu," sebutnya.


Gepeng menambahkan, warga dusunnya juga berupaya untuk mengembangkan tradisi tersebut. Termasuk menambahkan unsur kesenian di dalamnya. Dengan begitu, tradisi itu dapat menjadi destinasi wisata bagi warga di sekitar Dusun Dawung. (aya/din)

Editor : Satria Pradika
#ramadan 2024 #Magelang #tradisi perang air #Bajong Banyu