RADAR JOGJA - Kisah mistis merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Ada semacam daya tarik yang kuat dan memicu rasa ingin tahu akan dunia gaib.
Termasuk, misteri di Temanggung Jawa Tengah. Yakni, jembatan kereta api yang melintasi Kalikuas di Temanggung.
Jembatan itu menghubungkan jalur kereta api antara Yogyakarta, Magelang, sampai dengan Temanggung. Lalu, dari Temanggung bisa ke Ambarawa sampai Semarang.
Pada saat itu, pemerintah kolonial Belanda sangat tertarik dengan daerah Temanggung karena hasil bumi berupa tembakau.
Pada tahun 1907, tepatnya pada 1 Juli 1907, jalur kereta api dibuka oleh perusahaan perkeretaapian swasta Hindia Belanda yaitu Netherlands-Indhische Spoorweg Maatschappij.
Sebagai seorang anemir atau pemborong yaitu seorang Tionghoa bernama Hu Cong An.
Urban legend tentang Mulyanah, sosok perempuan berpakaian merah di Jembatan Kalikuas, menjadi sebuah cerita di Kabupaten Temanggung.
Itu diutarakan dalam tayangan akun Youtube dari chanel Kisah Tanah Jawa yang tayang pada 22 Februari 2024 yang dibawakan oleh Om Hao dan didampingi Mas Amai.
Mereka mendatangkan narasumber dari warga sekitar yang sudah tinggal selama kurang lebih 30 tahun.
Dia menjelaskan bahwa Mulyanah adalah seorang siswa yang hamil di luar pernikahan. Lalu, siswa tersebut frustasi dan mengakhiri hidup dengan menjatuhkan diri dari atas jembatan Kalikuas.
Pada tayangan tersebut, Mulyanah berada di jembatan bekas rel kereta.
Mas Amai juga berkomunikasi dengan sosok Mulyanah ini.
Om Hao mendapatkan satu gambaran perempuan yang masih sekolah pada waktu itu. Dia bukan asli daerah itu.
Perempuan itu merupakan korban janji seorang lelaki. Dia seperti terkena bujuk rayu laki-laki yang merupakan kakak kelasnya.
Mereka melakukan hubungan terlarang sampai dia hamil. Ketika kandungan berumur 4 atau 5 bulan, dia ketahuan hamil dan diusir dari rumahnya.
Dia menaiki kereta dari Temanggung ke Parakan. Ketika tiba di sebuah stasiun kecil seperti ada sesuatu yang membisikkan untuk mengakhiri hidupnya.
Akhirnya, Mulyanah mencoba untuk turun. Saat itu menjelang Maghrib. Baru saja hujan.
Waktu itu, ada seorang laki-laki yang ingin mencoba menolongnya dengan cara memanggilnya.
Tapi, Mulyanah loncat dari atas jembatan. Tubuhnya terbawa arus sungai yang mengalir di bawah jembatan.
Saat ditemukan, mayatnya hampir tidak dikenali. Kecuali pita yang masih menyangkut di lehernya.
Sejak saat itu, jarang sekali orang lewat di jembatan itu setelah maghrib. (Alia Nur Azizah)
Editor : Amin Surachmad