DARI koran bekas, masa kecil Bupati Kebumen Arif Sugiyanto merasa dipenuhi informasi. Kala itu, dia telaten membaca koran bekas, yang didapat dari tetangganya yang menjadi loper. Kisah ini dia sampaikan bertepatan pada Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2024.
M. HAFIED, Radar Jogja, Kebumen
Memiliki tetangga seorang loper koran merupakan keberuntungan tersendiri bagi Arif Sugiyanto. Dari tetangganya itu, dia dapat leluasa membaca koran sisa edaran.
Maklum saja, arus informasi melalui media kala itu tak sederas sekarang.
Baca Juga: Bisa Hingga Menjelang Subuh, Logistik Pemilu 2024 di Bantul Mulai Didistribusikan
Ketika usia SD, Arif mengaku cukup dekat dengan bahan bacaan koran. Di saat sebayanya asyik bermain, dia justru rela pergi ke rumah loper koran hanya untuk menunggu koran sisa edaran.
Dia melihat kesempatan ini sebagai peluang atau cara untuk memperkaya informasi.
"Budaya membaca itu penting. Di sinilah ada koran. Saya bisa ikut ngirim puisi. Jadi dari kecil itu sudah berlatih," katanya, Kamis (8/2).
Baca Juga: Gandeng Rumah BUMN Yogyakarta, Adakan Penyuluhan Nomor Induk Berusaha Untuk Difabel Pinilih Sedayu
Membaca koran bekas adalah cermin keterbatasan ekonomi. Hal ini diakui langsung oleh Arif. Namun kondisi tersebut bukan jadi penghalang dirinya untuk tetap aktif membaca.
Kala itu, koran dipilih karena dianggap paling murah di antara bahan bacaan lain.
"Dulu itu toko buku sangat sedikit. Adanya ya cuma koran karena disitu ada informasi," ungkapnya.
Pak Slamet, begitu Arif memanggilnya. Slamet adalah satu diantara loper koran yang hingga kini masih bertahan. Usianya sekarang sudah berkepala empat.
Arif menganggap Slamet punya andil cukup besar dalam mengasah kemampuan literasi ketika dia masih berusia sekolah dasar hingga beranjak dewasa.
"Pas saya SD, Pak Slamet ini sudah jadi loper koran, sekarang masih awet enom," kata Arif saat pertemuan dengan loper di Pendopo Kecamatan Kebumen.
Arif masih ingat betul, dulu selepas istirahat sekolah, dia rutin menyempatkan waktu untuk datang ke rumah Slamet.
Baca Juga: Beri Dukungan Hari Kanker Anak Sedunia, Puluhan Orang Cukur Gundul
Kebiasaan ini dilakukan hanya untuk memperoleh bahan bacaan dari koran sisa edar.
"Pak Slamet ini mungkin sudah usia 70 tahun. Ya, dulu dekat banget. Saya sering ke tempat beliau," urainya.
Arif dan Slamet yang sudah sekian lama tak jumpa kini dapat dipertemukan kembali pada momentum Hari Pers Nasional.
Pada pertemuan itu, dia pun memberikan uang tunai kepada Pak Slamet sebagai tanda terima kasih dan bentuk apresiasi. (fid)