Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mahasiswa Kebumen Resah dengan Iklim Demokrasi, Pesta Demokrasi Milik Rakyat. Bukan Pejabat

Muhammad Hafied • Rabu, 7 Februari 2024 | 13:55 WIB
BERSUARA : Aliansi Mahasiswa Kebumen menggelar aksi damai di bundaran Tugu Lawet, kemarin. Mereka menyatakan keresahan atas kondisi demokrasi belakangan ini.
BERSUARA : Aliansi Mahasiswa Kebumen menggelar aksi damai di bundaran Tugu Lawet, kemarin. Mereka menyatakan keresahan atas kondisi demokrasi belakangan ini.

 

 

 

 

RADAR JOGJA - Puluhan mahasiswa di Kebumen menggelar aksi damai di sekitar bundaran Tugu Lawet, Selasa (6/2). Mereka turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan hati tentang kondisi iklim demokrasi di tanah air.

 

Dalam aksi tersebut para mahasiswa membentangkan spanduk berisi seruan serta kecaman. Salah satu intinya penolakan terhadap segala bentuk intervensi dalam konteks penyelenggaraan pemilu. Para mahasiwa juga berorasi tentang kemunduran demokrasi di Indonesia.

"Pesta demokrasi milik rakyat. Bukan milik pejabat," tulis mahasiswa dalam sebuah spanduk.

 

Aksi ini digelar atas inisiasi dari Aliansi Mahasiswa Kebumen. Mereka berangkat dari berbagai kampus serta organ ekstra mahasiswa. Aksi tersebut tampak mendapat pengamanan ketat dari pihak kepolisian.

 

Koordinator Aksi Damai Aliansi Mahasiswa Kebumen Saefuloh menyatakan, aksi turun ke jalan ini sebagai bentuk keresahan bersama atas isu publik yang bergulir seiring tahapan pemilu.

Baca Juga: Kerahkan Drone, Hari Kedua Pencarian Korban Hilang Terseret Ombak di Regisan Pantai Jungwok Gunungkidul Terkendala Cuaca Buruk

Terutama isu terbaru menyangkut putusan Dewan Korhormatan Penyelenggara Pemilu atau DKPP yang menyatakan jajaran komisi pemilihan umum (KPU) telah melanggar etik terhadap pencalonan salah satu calon wakil presiden. "Menjadi keresahan kenapa harus terjadi. Ketika berbicara pelanggaran etik yang berlaku adalah hukum sosial," jelasnya.

 

Menurut dia, kegiatan politik dengan menghalalkan segala cara merupakan bentuk kejahatan. Hal ini yang perlu menjadi perhatian bersama. "Bagaimana masyarakat akan menilai paslon tersebut. Masyarakat yang akan memilih sendiri," lanjut Saefuloh.

 Baca Juga: Kisah Inspiratif Sugeng Mengembangkan Usaha Pembibitan Tanaman Trubus: Modal Awal Hanya Dua Jutaan Rupiah, Kini Raup Omzet Puluhan Juta Per Bulan

Pada pembahasan lain, mahasiswa juga menyoroti begitu massif munculnya berita hoak yang bermuatan politik. Kondisi ini menurutnya sangat berbahaya bagi keutuhan suatu bangsa.

Mereka juga meminta agar peserta pemilu tidak seenaknya menggunakan fasilitas pendidikan untuk kepentingan politik. "Kami menyuarakan agar bagaimana berita hoaks digunakan paslon atau peserta pemilu demi mendapat suara," ucap Saefuloh.

 Baca Juga: Lepas Enam Pemain, Persiba Bantul Perkuat Tim Menuju Liga 3 Nasional

Sementara itu, Ketua Cabang Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kebumen Muhammad Mugi mengajak agar masyarakat bersama mengawal proses Pemilu 2024.

Menurutnya, peran aktif masyarakat dalam pesta demokrasi lima tahunan ini menjadi penting untuk menentukan sosok pemimpin Indonesia. "Dari kami tentu tidak akan melewatkan kesempatan. Kami dalam satu rampak barisan mengawal pemilu," ucapnya. (fid)

 

Editor : Heru Pratomo
#Mahasiswa #KPU #kebumen