Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPBD Kabupaten Magelang Minta Warga di Lereng Gunung Merapi Amalkan Ilmu Titen

Naila Nihayah • Kamis, 11 Januari 2024 | 05:25 WIB
UNIK: Danau bekas tambang galian C di Dusun Kemiren, Srumbung, Kabupaten Magelang, ini mendadak dipenuhi tumbuhan berwarna merah. Seluruh danau pun ikut memerah.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
UNIK: Danau bekas tambang galian C di Dusun Kemiren, Srumbung, Kabupaten Magelang, ini mendadak dipenuhi tumbuhan berwarna merah. Seluruh danau pun ikut memerah.(Naila Nihayah/Radar Jogja)

 

RADAR JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang meminta warga Kecamatan Dukun, Sawangan, dan Srumbung yang notabene berdekatan dengan Gunung Merapi, diimbau lebih berhati-hati saat terjadi hujan deras.

Apalagi intensitasnya lebih dari satu jam. Meski kerap terjadi, namun warga diminta untuk tidak menyepelekan hal itu. “Kalau hanya lima menit, tidak masalah,” kata Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten Magelang MHD Muzamil Rabu (10/1).

 Baca Juga: Terdampak Pembangunan Kampung Seni Borobudur, Nenek Soedarminah Datang dari Malang

Sebab, ketika hujan di puncak Gunung Merapi lebih dari satu jam, hal itu berisiko terjadi banjir tinggi. Sehingga warga yang tinggal di bantaran atau bibir sungai selalu mencari informasi terkait cuaca di hari itu. Warga juga harus mengamalkan ilmu titen terhadap potensi bencana di Kawasan rawan bencana (KRB) III.

Pihaknya terus mengantisipasi dan menyikapi bencana hidrometeorologi yang disebabkan curah hujan tinggi maupun angin kencang. Lantaran bencana tersebut dapat mengakibatkan banjir bandang, pohon tumbang, hingga tanah longsor. 

 Muzamil menambahkan, ancaman pada musim penghujan ini hampir merata di seluruh kecamatan di Kabupaten Magelang. Tapi, khusus musim penghujan yang lebih dominan adalah terjadinya tanah longsor. “Terutama di sembilan kecamatan itu,” ujarnya,.

Selain tanah longsor, ancaman lain yang harus diwaspadai adalah angin kencang. Bencana tersebut paling banyak ditemukan di wilayah Muntilan, Mertoyudan, dan Tempuran. Bahkan, di awal Januari ini, BPBD sudah menangani sejumlah rumah yang terdampak angin kencang. Terutama di Desa Keji, Muntilan.

Dikatakannya, meski terjadi kerusakan ringan, namun jumlahnya cukup banyak. Tidak hanya satu atau dua titik, tapi lebih dari sepuluh titik. Mengenai jumlah pastinya, dia belum dapat rekapan. Tapi, di satu desa itu (Keji, Muntilan) paling sering terjadi angin kencang. “Kebanyakan atap rumah kena pohon bambu yang tumbang,” sebutnya.

 Untuk mengantisipasinya, dia meminta kepada warga di tiap desa agar menggelar kerja bakti. Terutama memotong ranting-ranting yang mengarah ke jalan. Sehingga ketika nantinya terjadi bencana angin kencang, ranting tersebut tidak patah dan berserakan ke jalan karena dapat membahayakan pengguna jalan.

 

Terkait tanah longsor, Muzamil meminta kepada warga yang posisi rumahnya dekat dengan lereng untuk lebih waspada. Ketika terjadi hujan lebih dari satu jam dan deras, mereka harus bergeser terlebih dahulu. Mungkin ke rumah tetangga atau saudara. “Kalau sudah reda, barulah kembali ke rumah,” paparnya. 

Editor : Heru Pratomo
#sawangan #Kabupaten Magelang #Srumbung #Kawasan Rawan Bencana (KRB) III #Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) #Gunung Merapi #Dukun