Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tinggi Sampah di TPA Banyuurip Kota Magelang Capai 16 Meter

Naila Nihayah • Senin, 8 Januari 2024 | 14:30 WIB
OVERLOAD: Sel aktif yang menampung sampah di TPSA Bayuurip sudah kritis karena jumlahnya sudah melebihi kapasitas.
OVERLOAD: Sel aktif yang menampung sampah di TPSA Bayuurip sudah kritis karena jumlahnya sudah melebihi kapasitas.

RADAR JOGJA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang terus berupaya untuk dapat mengurangi gunungan sampah di TPSA Banyuurip.

Kepala DLH Kota Magelang Makhmud Yunus mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih berupaya mengelola sampah di TPSA Banyuurip. Sebab gunungan sampahnya sudah cukup tinggi atau sekitar 16 meter dan masih tersisa satu sel aktif saja.

Saat ini, total volume sampah yang masuk ke TPSA Banyuurip sekitar 70 ton. Proporsinya 80 persen terdiri dari sampah rumah tangga dan sisanya sampah dari pasar. Jumlah tersebut, lanjut dia, terus mengalami peningkatan. Lantaran jumlah pendatang yang datang Kota Magelang setiap tahunnya meningkat.

Bahkan, pada malam tahum baru 2024, DLH berhasil mengumpulkan 4 ton sampah di kawasan Alun-alun Magelang. Jumlah itu jelas meningkat tajam dibanding tahun lalu. Sebab, pada malam pergantian tahun 2023, Pemkot Magelang tidak menggelar kegiatan skala besar di alun-alun.

Pada 2024 ini, DLH berencana melakukan mesin untuk pemilahan dan pengolahan sampah di sana. Rencana pengadaan tersebut, kata dia, sudah dianggarkan sekitar Rp 2,5 miliar. Anggaran itu juga mencakup tenaga dan penambahan daya.

Sebab, daya yang dibutuhkan untuk mesin tersebut terbilang tinggi. Sekitar 30 ribu watt. "Sebetulnya kami akan melakukan pengadaan mesin itu di APBD Perubahan 2023. Tapi, kami harus mempersiapkan dayanya. Sehingga tertunda dan kami membutuhkan waktu untuk pengadaan mesin itu," ujarnya, Minggu (7/1).

Yunus melanjutkan, sebenarnya DLH sudah memiliki mesin pemilah dan pengolah sampah di TPS3R. Tapi, kapasitasnya terlalu rendah. Hanya mampu mengolah kurang lebih 1 ton sampah per hari. "Kalau besok ini (rencana pengadaan mesin baru), mungkin bisa mengolah 15 ton sampah dalam satu hari," imbuhnya.

Harapannya, mesin tersebut dapat mengurangi tumpukan sampah di TPSA Banyuurip. Selain itu, sampah yang sudah diolah tersebut dapat dimanfaatkan. Sebab, produk yang dihasilkan dari mesin itu berupa bubur sampah dan bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik maupun pakan budidaya magot.

 

Nantinya, kata dia, sampah itu juga akan diolah menjadi refuse derived fuel (RDF). Saat ini, DLH masih melengkapi kajian tahap awal di dua bulan pertama ini. "Nanti ada penyiapan lokasi dan penambahan daya. Baru nanti kami bisa pengadaan. Mungkin sekitar pertengahan tahun ini (direalisasikan)," paparnya.

Editor : Heru Pratomo
#Dinas Lingkungan Hidup (DLH) #Refuse Derived Fuel (RDF) #TPSA Banyuurip #Kota Magelang