RADAR JOGJA – Kelompok kesenian gatholoco di Borobudur masih eksis. Mereka pun difasilitasi Desa Giritengah, Borobudur dengan menghelat festival Kampung Tani yang bertajuk 'Suluk Tani untuk Pangan Lestari'. Kegiatan ini sebagai upaya pengembangan dan pemanfaatan potensi budaya yang hadir di tengah masyarakat. Khususnya terkait dengan pertanian serta seluruh ekosistem kebudayaannya.
Daya Desa Giritengah Abdul Majid menyebut, ada beberapa kelompok kesenian gatholoco yang dilibatkan dan masih eksis di Kecamatan Borobudur. Seperti dari Desa Giritengah, Majaksingi, Candirejo, Giripurno, dan Kalisalak.
Tujuannya, kata Majid, sebagai penguatan dan peningkatan kapasitas dalam menciptakan wisata yang rekreatif dan edukatif. Sekaligus sebagai upaya membuka ruang edukasi kultural dan diseminasi gagasan terkait dolanan tradisional.
Kemudian, ada kegiatan lain seperti sarasehan bertajuk 'Relevansi Relief Candi Borobudur dengan Pertanian Ramah Lingkungan'. Dilanjutkan dengan pentas seni wayang pohong. "Lalu, ditutup dengan pentas tari gerabah dan kesenian angklung," terangnya , Senin (4/12).
Dia berharap, Kampung Tani ini menjadi ikhtiar untuk memerangi kemiskinan ekstrem di Giritengah melalui jalan kebudayaan. Lebih-lebih, Kampung Tani juga sedang mempersiapkan paket wisata edukasi kultural berbasis masyarakat. Dengan memanfaatkan beragam potensi yang ada melalui travel pattern.
Pegiat Budaya Kemendikbudristek Akhmad Adri Muzakaadah menjelaskan, perhelatan ini diproyeksikan sebagai ruang ekspresi sekaligus media perjumpaan. Antara para petani, generasi muda dan anak-anak, pelaku wisata, kelompok kesenian, serta pemerintah desa.
Tujuannya sebagai upaya pengembangan dan pemanfaatan beragam potensi yang ada di Desa Giritengah. "Demi membangun kesejahteraan masyarakat maupun peningkatan kualitas ekologi dan kohesi sosial yang ada," ujarnya.
Dia menyebut, sejak pertengahan 2023, Kampung Tani telah rutin melakukan kegiatan peken tani. Berupa pasar budaya yang dihelat setiap selapan atau 35 hari sekali. Kegiatan itu menjadi ruang ekonomi kreatif bagi masyarakat.
Khususnya mereka yang kurang mampu, untuk menjual dan mengenalkan beragam hasil pertanian serta olahan pangan lokal. Adri menambahkan, ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memeriahkannya. Seperti pameran, diskusi, serta workshop terkait kesenian gatholoco dan ketahanan pangan. Khususmya praktik pertanian ramah lingkungan berbasis pranata mangsa. (aya)
Editor : Satria Pradika