Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih Irit, Gas Alam PGN Karangrejo Disalurkan ke Rumah-Rumah Jadi Penolong Warga saat Gas Melon Langka

Naila Nihayah • Kamis, 12 Oktober 2023 | 03:43 WIB
SIAP PAKAI: Warga memanfaatkan saluran pipa gas alam di rumahnya di Borobudur, Kabupaten Magelang, Rabu (11/10). (Naila Nihayah/Radar Jogja)
SIAP PAKAI: Warga memanfaatkan saluran pipa gas alam di rumahnya di Borobudur, Kabupaten Magelang, Rabu (11/10). (Naila Nihayah/Radar Jogja)
 
 
 
MUNGKID - Seorang warga Dusun Bumen Jelapan, Desa Karangrejo, Borobudur Siti Mustolikah tampak menarik tuas pada saluran pipa gas alam di rumahnya.
 
Gas itu mengalir dari Balkondes Pertamina Gas Negara (PGN) Karangrejo. Keberadaannya menjadi wujud komitmen PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN dalam menyalurkan energi baik kepada masyarakat.
 
 
Sembari memperlihatkan caranya, ia bercerita, sudah lebih dari satu tahun memanfaatkan gas alam.
 
Mustolikah menyebut, saat pertama kali dipasang pipa, dia bersama warga Bumen Jelapan lainnya mendapat instalasi dan kompor dua tungku gratis.
 
 
Bagi dia, kehadiran gas alam itu mampu menjadi penolong saat adanya kelangkaan gas melon di pasaran. 
 
 
Jika dikalkulasi, penggunaan gas alam ini bisa memangkas biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membeli gas melon setiap bulannya.
 
Alih-alih membayar tagihan lebih tinggi, penggunaan gas alam justru lebih hemat. Tapi, untuk pengeluaran setiap bulan, selalu berbeda. Tergantung intensitas pemakaian. 
 
 
Sistem pembayaranya pun sama seperti listrik, yakni diukur dengan meteran. Pembayarannya bisa dilakukan di minimarket, dompet digital, dan lainnya.
 
“(Gas alam) lebih irit. Rata-rata sebulan (tagihannya) Rp 40 ribu-Rp 50 ribu. Tergantung pemakaian. Ada juga (warg) yang habis Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu,” ujarnya saat ditemui, Rabu (11/10).
 
Sebelum menggunakan gas alam, ia bisa menghabiskan tiga hingga empat tabung gas melon ukuran 3 kilogram (kg) dengan harga Rp 22 ribu. Jumlah itu biasanya habis dalam satu bulan.
 
 
 
Usai beralih gas alam, ia bisa menekan pengeluaran. Setidaknya lebih murah ketimbang memakai gas melon. Lebih-lebih, ketika adanya kelangkaan gas melon, ia tidak kesulitan lagi.
 
Selama ini, dia mengaku, penggunaan gas alam dirasa lebih nyaman dan tidak ada kendala yang berarti. Bahkan, hanya terhitung tiga kali dirinya mengalami sedikit kendala. Seperti tersumbatnya jaringan pipa gas tersebut.
 
Namun, hal itu bukan menjadi masalah besar dan dapat segera diatasi oleh petugas yang berjaga di Balkondes PGN Karangrejo. Terlebih, petugas PGN setiap bulan melakukan pemeriksaan rutin terhadap jaringan gas tersebut.
 
 
Meski begitu, ada sedikit kekhawatiran pada dirinya. Terutama jika ada kebocoran pipa. Namun, dia optimistis, PT PGAS dapat menjamin keamanan dari penggunaan gas tersebut.
 
Ini mengingat hampir seluruh warga Dusun Bumen Jelapan memanfaatkan gas alam dari Balkondes PGN Karangrejo itu. Ditambah dengan satu dusun lagi, yakni Dusun Kretek 2.
 
Sama halnya dengan Mustolikah, Nurma mengaku, sejak adanya sosialisasi penggunaan gas alam, ia tertarik untuk mencobanya. Sebab, penggunaannya dirasa lebih hemat ketimbang memakai gas melon.
 
 
“Sejak awal, warga Desa Karangrejo, khususnya di Bumen Jelapan dan Kretek 2, sudah disarankan untuk memakai gas alam. Saya pun setuju untuk menggunakannya,” ujar dia.
 
Jika dibanding dengan gas melon, ia bisa menghemat kurang lebih 10 persen. Karena dia memiliki warung dan kerap menggunakan gas, rata-rata sebulan hanya mengeluarkan biay RP 60 ribu.
 
“Ya, sedikit banyak terbantu dengan adanya gas alam ini,” sambungnya. (aya) 
Editor : Amin Surachmad
#PGN #Gas Alam #pertamina #balkondes