MAGELANG - Selama empat hari, ada 170 mahasiswa Buddhis dan lintas agama yang digembleng soal pembinaan karakter dan moderasi beragama.
Hal itu dirasa penting dilakukan demi terciptanya toleransi antarumat beragama. Dengana begitu, tidak ada lagi yang bisa membenturkan konflik antaragama di tengah masyarakat. Khususnya, di kalangan mahasiswa.
Baca Juga: Jumlah Personel dan Peralatan Tidak Ideal, Masih Butuh Dua Pos Damkar di Wilayah Utara dan Barat
Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi dan Media Wibowo Prasetyo mengingatkan pentingnya toleransi antarumat beragama di Indonesia. Agar tidak mudah dibenturkan.
“Kita wajib bersyukur hidup di Indonesia karena toleransi beragamanya cukup bagus,” terangnya saat membuka kegiatan, Selasa malam (10/10).
Menurutnya, moderasi beragama menjadi seruan sekaligus penegasan bahwa kehidupan yang harmonis dapat dicapai dengan meningkatkan kebebasan dalam masyarakat.
Apalagi, agama menjadi isu yang kerap dialami. Termasuk membenturkan konflik antar agama dengan narasi yang diolah sedemikian rupa. Seperti memojokkan agama tertentu.
Dia menyebut, tidak heran jika pemerintah terus mendorong penerapan moderasi beragama di tengah masyarakat. Namun, sebetulnya yang dimoderasi bukan agamanya. Melainkan, cara pandang dalam beragama.
Di mana, harus memiliki sifat toleran atau menghargai agama masing-masing. Kegiatan semacam ini dapat mendorong pemuda agar lebih kreatif dan inovatif.
Baca Juga: Satpol PP Purworejo Copoti APS Tak Berizin
Harapannya para pemuda menjadi tonggak dalam menggelorakan semangat moderasi beragama. Mengingat banyaknya tantangan global di era digitalisasi yang luar biasa, terutama soal keagamaan. Sehingga harus dibarengi dengan literasi dan pemahaman yang lebih.
“Bijaklah dalam menggunakan media sosial. Kalau tidak, media sosial akan menjadi mesin pembunuh,” bebernya.
Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha, Kemenag RI Supriyadi mengatakan, moderasi beragama perlu disuarakan. Tidak hanya sebatas wacana semata. Sehingga kegiatan ini menjadi ajang untuk saling bertemu dan mengenal antarumat beragama.
"Baik dari sisi agama maupun latar belakang pendidikannya,” sebutnya.
Ketua panitia Sayit mengatakan, Ditjen Bimas Buddha merasa perlu memberikan ruang dengan melakukan pembinaan kepada mahasiswa Buddhis dan lintas agama. Harapannya mereka mampu menjadi agen perubahan dan penggerak moderasi beragama.
“Sehingga mereka bisa peduli terhadap perkembangan agamanya yang toleran dan moderat melalui kegiatan ini,” terangnya.
Baca Juga: Dinilai Menambah Aura Spiritualitas Umat Buddha, Kemenag Dukung Pemasangan Chattra Candi Borobudur
Para mahasiswa ini, lanjut dia, dapat menyikapi dengan baik hal-hal yang berpotensi merobek dan mencabik kerukunan umat beragama di Indonesia.
Menurutnya, sikap ini akan menjadi formula ampuh dalam merespons dinamika zaman di tengah maraknya sikap intoleransi, fanatisme, ektremisme, dan radikalisme. (aya)