RADAR JOGJA - Tingkat perceraian di Kebumen masih cukup memprihatinkan. Tingginya angka perceraian di Kebumen bahkan masuk kategori sepuluh besar di Jawa Tengah. Mayoritas karena faktor ekonomi dan pertengkaran.
Panitera Pengadilan Agama (PA) Kebumen Tazkiyaturrobihah menyampaikan, perkara perceraian masih didominasi perkara cerai gugat yang diajukan dari pihak istri. Angka cerai talak tidak kurang dari separuh perkara cerai gugat. PA Kebumen mencatat mayoritas perceraian ini dipicu karena faktor perselisihan terus menerus. "Ada yang cerai karena meninggalkan salah satu pihak. Paling banyak itu bertengkar. Hampir imbang sama faktor ekonomi," ungkap Tazky di kantornya,(13/9/23).
Menurut dia, data kasus perceraian tahun ini sebenarnya cenderung turun, jika dibanding data tahun sebelumnya. Kendati begitu, Kabupaten Kebumen kini masih menduduki peringkat delapan kasus perceraian di Jawa Tengah. "Tren perceraian itu turun ya. Tapi kalau lihat data, masuk 10 besar di Jateng. Satu tahun lebih dari 3.000 perkara perceriaan," kata Tazky.
Ia menyebut, tingkat perceraian di Kabupaten Kebumen tergolong tinggi. Berada di bawah Semarang dan Pati. Lalu, setelah Kebumen disusul Banjarnegara dan Kendal. Data tersebut diambil secara realtime dari aplikasi yang dikelola Mahkamah Agung.
Berdasar laporan perkara PA Kebumen, per 13 September 2023 terdapat 2.343 kasus perceraian. Dari jumlah itu kini sebanyak 2.215 perkara telah diputus atau memiliki kekuatan hukum tetap. "Masih ada sisa 274 perkara. Penyelesaian kami di sudah angka 88,99 persen," ucapnya.
Menurut data, lanjut Tazkiy, kasus perceraian di Kebumen mengalami penurunan dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Pada 2021, terdapat angka perceraian sebanyak 3.381 perkara. Sedangkan, pada 2022 silam terdapat 3.208 perkara. "Tutup buku masih ada tiga bulan. Kalau lihat data kemungkinan tidak seperti tahun kemarin," ujarnya.
Kepala Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kebumen Sukarno mengatakan, pihaknya memiliki komitmen tinggi dalam mewujudkan ketahanan keluarga dan pembangunan keluarga sakinah. Salah satunya melalui program bimbingan yang menyasar para remaja usia nikah terutama kalangan mahasiswa. "Kami membekali mahasiswa pemahaman yang benar tentang perkawinan, tujuan dan upaya pelestariannya," jelas Sukarno.
Dalam program ini, kata dia, para remaja dibekali pemahaman mengenai tantangan pelestarian perkawinan. Dia juga cukup perihatin karena Kebumen masih tinggi terkait angka perceraian, perkawinan dini, perkawinan siri hingga kekerasan dalam rumah tangga. "Harapan kami para mahasiswa bisa ikut memberikan edukasi kepada remaja lainnya. Selain untuk bekal mereka sendiri ketika memasuki jenjang perkawinan," tuturnya. (fid/pra)