RADAR JOGJA - Sebuah video menayangkan aktivitas nelayan Pantai Jetis Cilacap, Jawa Tengah yang sibuk viral di Tiktok.
Video tersebut menunjukkan para nelayan ketiban berkah karena panen raya ubur-ubur.
Tampak sejumlah bak penampungan ubur-ubur penuh.
Ubur-ubur yang ditangkap berwarna putih dan dapat dikonsumsi. Besarnya setangkup tangan.
Video itu diunggah akun Tiktok Yensi Haqun Prastiwi, pada Selasa (19/9/2023) malam. Video berdurasi satu menit 24 detik itu viral hingga mendapatkan lebih dari 24 ribu like dan ratusan komentar.
Pemilik akun, Yensi menjelaskan, panen raya ini merupakan fenomena alam yang biasa terjadi pada musim-musim tertentu. Kali ini panenan ubur-ubur atau biasa disebut jelly fish ini membeludak dan mengundang warga sekitar pantai ramai-ramai membersihkan hasil tangkapan.
"Yang kerja itu banyak sekali luur, siapa saja boleh, kalau ada yang butuh kerjaan langsung saja ke tempat pelelangan ikan (TPI) Jetis berangkat pagi balik sore," ungkap Yensi dalam video tersebut.
Yensi juga menunjukkan pengolahan ubur-ubur.
Dimulai dari pembersihan, lalu memisahkan badan dengan kaki ubur-ubur.
Proses selanjutnya pengupasan. Badan ubur-ubur dikupas di bagian tepinya.
"Karena ini sempat overload, jadi ada yang difermentasi juga luur, di beri garam biar awet," jelasnya dibarengi warga yang menaburkan garam di bak penampungan ubur-ubur.
Ubur-ubur hasil tangkapan nelayan, bakal di ekspor ke negara lain sebagai bahan makanan dan obat-obatan.
"Biasanya ekspor ke Cina, Taiwan dan negara lainnya," tutup Yensi.
Dilansir dari bercahayafm.cilacapkab.go.id, hasil tangkapan nelayan di Pantai Jetis mencapai 150-200 ton per hari.
Ubur-ubur bermunculan di Pantai Jetis ini merupakan fenomena alam, sebab cukup lama ubur-ubur tak muncul. Menurut masyarakat sekitar terakhir muncul pada 2019 lalu.
"Biasanya ubur-ubur muncul selama lima bulanan di awal dan di akhir tahun. Diperkirakan ubur-ubur masih akan terus muncul hingga akhir Desember mendatang," terang Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Sukirman, Senin (18/9/2023).
Disebutkan, pada 2019, Kabupaten dengan sebutan 1.000 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ini mengekspor ubur-ubur hingga satu ton.
Diperkirakan prosentasi ekspor ubur-ubur akan mengalami peningkatan tahun ini. "Dilihat dari jumlah tangkapannya setiap hari seperti itu," tuturnya.
Meski ubur-ubur per kilogram dihargai murah Rp 800 - Rp 900. Namun jika tangkapannya melimpah maka nelayan untung besar. Para nelayan bisa meraup penghasilan Rp 800 ribu- Rp 2 juta dalam sekali melaut. (mel)
Editor : Meitika Candra Lantiva