Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peningkatan Kadar RON Pertalite Masih dalam Kajian Internal, Harganya Tetap Rp 10 Ribu Per Liter

Naila Nihayah • Selasa, 12 September 2023 | 21:06 WIB
ANTRE: Para pengemudi tampak mengantre di SPBU Pakelan. Pertamina saat ini tengah mengkaji peningkatan kadar Pertalite atau RON 90 menjadi Pertamax Green 92 atau RON 92. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
ANTRE: Para pengemudi tampak mengantre di SPBU Pakelan. Pertamina saat ini tengah mengkaji peningkatan kadar Pertalite atau RON 90 menjadi Pertamax Green 92 atau RON 92. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

 

MUNGKID - PT Pertamina (Persero) berencana meningkatkan kadar oktan jenis bahan bakar minyak (BBM) research octane number (RON) 90 atau Pertalite menjadi RON 92 atau Pertamax Green 92. Saat ini, PT Pertamina tengah melakukan kajian internal terkait peningkatan tersebut. Rencananya, asumsi harganya masih sama dengan Pertalite saat ini, yakni Rp 10 ribu per liter.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengatakan, pihaknya masih menggodok konsep tersebut dan belum diusulkan secara resmi kepada pemerintah. “Ini masih kajian internal. Sebenarnya nggak perlu diperdebatkan karena masih usulan,” ujarnya di Balkondes Wringinputih, Borobudur, Senin (11/9).

Sebab, kata dia, untuk mengusulkan ke pemerintah haruslah lengkap. Termasuk menyusun alokasi subsidinya. Usulan tersebut mencuat seiring dengan semangat PT Pertamina untuk terus berinovasi agar menghasilkan kualitas BBM yang lebih baik. Selain itu, peningkatan kadar oktan disinyalir dapat mengurangi emisi dengan menghasilkan BBM yang memiliki RON lebih tinggi.

Fadjar menegaskan, kajian tersebut bukan berarti menghapus Pertalite. Namun, meningkatkan kadar oktan yang sebelumnya RON 90 menjadi RON 92. “Sederhananya, kita paham bahwa semakin tinggi RON, artinya bahan bakar akan semakin baik. Termasuk, untuk kendaraan dan untuk lingkungan. Jadi, tidak ada penghapusan Pertalite,” tegasnya.

BBM Pertamax Green 92 merupakan Pertalite yang akan dicampur dengan bioenergi, yakni etanol dengan kadar tujuh persen. Dia menyebut, saat ini etanol sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Namun, pasokannya masih terbatas dan belum begitu banyak.

"Kalau impor (etanol) mungkin untuk jangka panjang jika nanti produksi (Pertamax Green 92) sudah banyak,” imbuhnya.

Meski ada kenaikan kadar oktan, lanjut dia, asumsi harganya masih sama dengan harga Pertalite saat ini, yakni Rp 10 ribu per liter. Justru, masyarakat akan semakin diuntungkan karena dengan harga Rp 10 ribu per liter, mereka bisa memperoleh BBM dengan kualitas yang baik.

Hanya saja, untuk kepastiannya, harga Pertamax Green 92 itu akan diatur oleh pemerintah. Ini karena ada mekanisme subsidi dan kompensasi di dalamnya.

Saat ini, Pertamina juga sudah mencampurkan bioetanol ke Pertamax atau RON 92. Sehingga menghasilkan produk bernama Pertamax Green 95 atau RON 95. Apalagi jika proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dilaksanakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan rampung, praktis Pertamina bisa memproduksi BBM RON 95 dengan maksimal.

Dengan begitu, kualitas BBM di Indonesia akan semakin baik. Hal itu sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bahwa nilai oktan bensin yang boleh beredar minimal 91 atau RON 91. Seperti halnya di negara-negara Eropa yang sudah menerapkan RON tinggi. Sehingga kondisi lingkungan tidak semakin parah karena RON-nya rendah.

Saat ditanya soal realisasi, Fadjar menuturkan, belum menentukan target. Sebab, kajian tersebut masih membutuhkan proses yang panjang. Peningkatan kadar oktan ini sejalan dengan target pemerintah untuk zero emission pada 2060.

“Tahun ini, kita kaji dulu secara komprehensif segala opsi dan kemungkinannya. Kalau sudah selesai pengkajian, barulah diajukan kepada pemerintah,” bebernya. (aya)

Editor : Amin Surachmad
#PT Pertamina #dalam negeri #bahan bakar minyak