SOLO - Mohammad Hasil Tamzil menyebut putri tercintanya selalu mencintai apa yang dikerjakannya. Termasuk saat menjadi dosen di UIN Raden Mas Said Solo.
Putri tersayang Mohammad Hasil adalah Wahyu Dian Silviani. Dosen UIN Raden Mas Said yang ditemukan meninggal dengan tidak wajar Kamis (24/8).
Tapi, tenyata, Wahyu Dian memiliki pengalaman panjang sebelum menjadi dosen di UIN Solo. Menurut penuturan ayahnya, Wahyu Dian pernah mencoba mengadu keberuntungan di Mataram. Dia mencoba melamar ke salah satu kampus di Mataram.
Namun, kata Mohammad Hasil Tamzil, Tuhan berkehendak lain. Tuhan mengirim putrinya ke UIN Raden Mas Said Solo.
"Anak saya dikirim di tempat ini dan berkarir selama tiga tahun. Dan, hari ini kita harus berpisah untuk menjemput putri saya untuk bergabung kembali dengan keluarga kami di Mataram,” tuturnya terbata-bata menahan tangis di hadapan civitas akademik UIN Raden Mas Said Solo Jumat (25/8).
Mohammad Hasil Tamzil berpendapat meninggalnya putri tercintanya tersebut sebagai akibat dari kasus kejahatan kriminal. Meski demikian, ia mengaku sudah ikhlas menerima kepergian sang putri.
Baca Juga: Kami Sudah Ikhlas, sejak Kecil Wahyu Dian Silviani Tak Pernah Menyusahkan
Namun, Mohammad Hasil Tamzil tetap meminta kasus ini diusut secara tuntas. "Kami sudah ikhlas, karena kami hanya menjalankan skenario dari Allah SWT. Tapi saya mohon kasus ini diusut tuntas. Ini masalah kejahatan,” ucapnya serak.
Wahyu Dian Silviani dikenal tidak pernah neko-neko. Dia juga dikenal tidak pernah menyusahkan orang tua.
Ia mengatakan, putri tercintanya datang jauh-jauh dari Mataram, Nusa Tenggara Barat. Wahyu Dian Silviani tidak memiliki saudara maupun kerabat di Solo.
Baca Juga: Dosen Perempuan UIN Raden Mas Said Solo Ditemukan Meninggal, Ada Tanda-Tanda Penganiayaan
“Dia tidak punya saudara di sini, tidak punya siapa-siapa. Hanya ada bapak ibu dari UIN Raden Mas Said yang menjadi ibu, bapak, dan adik kakaknya,” ucap Mohammad Hasil Tamzil saat menjemput jenazah almarhumah di kampus setempat, Jumat (25/8).
Dengan suara berat, guru besar Universitas Mataram itu mengatakan, sejak kecil Wahyu Dian Silviani dikenal sebagai anak yang tidak pernah neko-neko. Dian kecil dikenal anak yang memiliki dedikasi tinggi dan total dengan apa yang dia kerjakan.
“Anaknya tidak pernah neko-neko, tidak pilih-pilih, dan tidak punya keinginan yang aneh ataupun jahat,” katanya.
Sosok Dian Wahyu kecil juga dikenal tidak pernah menyusahkan orang tua maupun orang lain. Semasa sekolah, ia sudah bisa mengurus biaya kuliahnya sendiri. Tidak ada niatan untuk meminta dan menyibukkan orang tua.
“Anaknya dari dulu memang seperti itu. Dari dulu tidak neko-neko dan tidak pernah menyusahkan,” ucap dia.
Editor : Amin Surachmad