MAGELANG - Bangunan yang terdampak proyek pembangunan jalan layang (flyover) dan semi underpass di Simpang Canguk, Kota Magelang, mulai dibongkar. Seperti terlihat di Jalan Urip Sumoharjo.
Beberapa rumah dan ruko hanya menyisakan tembok. Atapnya pun mulai diturunkan.
Nantinya, flyover dan semi underpass itu menjadi jalan penghubung utama Semarang-Jogja. Apalagi, di kawasan Simpang Canguk, kerap terjadi kemacetan lalu lintas dan rawan kecelakaan. Utamanya di Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Telaga Warna, dan Jalan Raya Tegalrejo, Kabupaten Magelang.
Ketua RW 21 Kelurahan Rejowinangun Utara Bambang Kurniawan menuturkan, pembongkaran bangunan sudah mulai dilaksanakan sejak awal Agustus. "(Pengosongannya) 16 Agustus kemarin. Kemungkinan (pembongkaran dan pengosongan) sampai 31 Agustus," terangnya saat ditemui, Jumat (25/8).
Dia menyebut, pemberitahuan terkait pembongkaran bangunan itu sudah diterima sejak pertengahan Juli. Lantas, berdasarkan kesepakatan para warga setempat, pengosongan dimulai pada 16 Agustus. Namun, ada beberapa warga yang masih bertahan di rumahnya.
Dia menuturkan, di RW-nya, total ada lebih dari 80 KK yang terdampak proyek tersebut. Karena sebagian besar warga masih memiliki lahan di sekitar Canguk, sehingga mereka pindah ke sana. Tapi, ada beberapa warga yang memang pindah domisili. Termasuk dirinya.
Selama proses pembongkaran bangunan, kata dia, ketika masih ada bahan bangunan yang layak, bisa dimanfaatkan kembali. Seperti genting, batu bata, maupun kayu. Rencananya, proses pembangunan flyover dan semi underpass akan dilaksanakan pada awal September.
Bambang menambahkan, proses pembayaran uang ganti kerugian (UGR) memang berjalan dengan lancar. Hanya saja, proses administrasi Masjid Jam’iyatur Rohmah belum rampung. Sehingga UGR belum turun. Terlebih, masjid itu terdampak lebih dari separuh bangunannya.
Saat ini, warga tengah membangun masjid baru di belakang lokasi Masjid Jam’iyatur Rohmah menggunakan dana desa dan swadaya. Karena warga sepakat agar sebelum pembangunan flyover dimulai, masjid tersebut segera dibangun. Meskipun belum sepenuhnya jadi.
Dengan begitu, warga yang biasanya melakukan ibadah di sana, tidak terganggu. "Sebenarnya dari hasil musyawarah, warga ingin dibangunkan. Tapi, dari DPUPR bilang kalau nanti dibangunkan, akan ribet, tidak konsen. Terus dikasih ganti uang untuk pembangunan," jelasnya.
Hanya saja, karena status tanahnya merupakan wakaf dan tidak ada surat yang lengkap, sehingga masjid itu hanya mendapat UGR atas bangunan. Tidak dengan tanahnya. "Dapat (pengganti) sekitar Rp 450-an juta. Tapi, belum cair. Sehingga kami bangun sendiri. Insyaallah (konstruksinya) lebih bagus dan rencananya dibuat bertingkat," imbuhnya.
Sementara itu, seorang warga RW 21 Joko Tavip, 58 mengaku, rumah berukuran 72 meter persegi itu hanya terdampak sekitar 22 meter persegi. Dia mendapat UGR sebesar Rp 50 juta. Meski begitu, dia memutuskan untuk tidak pindah domisili. Tapi, dia mulai menambah bangunan di belakang rumahnya.
Sebagai warga, dia mendukung penuh proyek pembangunan flyover dan semi underpass tersebut. "Ini (pembongkaran) sudah mulai sejak 13 Agustus. Cuma kena ruang tamu. Terus buat tambahan bangunan di belakang rumah," sebutnya. (aya)
Editor : Amin Surachmad