RADAR JOGJA - Jepara dikenal sebagai kota ukir. Namun dinilai masih perlu pengembangkan. Agar mampu memenuhi kebutuhan utama pasar global.
Hal ini disampaikan Anggota DPR RI Fadli Zon saat mengunjungi Kota Ukir, Selasa (23/8/2023).
Dalam dialognya bersama mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) itu, disampaikan, pola ukir Jepara masih mengacu pada pakemnya atau pola terdahulu. Sehingga masih perlu sentuhan desain kekinian. Sehingga dapat memenuhi permintaan kancah global.
“Ukiran yang ada saat ini masih ukiran yang belum mendapat sentuhan desain terbaik yang dibutuhkan market. Ukirannya masih sama, dengan pola yang lama. Saat ini saya melihat trennya ukiran lebih pada model retro, klasik, dan kontemporer,” terang Fadli Zon dalam kegiatan Badan Kerja sama Antar Parlemen (BKSAP)itu.
Menurutnya, secara skill, desainer kayu Jepara sudah ada. Namun desain masih kurang memenuhi selera pasar yang terus berkembang.
"Padahal dalam dunia pemasaran, desain dan kemasan itu sangat penting. Bahkan ada yang bilang kemasan itu 70 persen dari marketing," ungkap Wakil Ketua DPR RI dalam kunjungannya bersama dewan lainnya itu.
Pernyataan Fadli Zon itu diiyakan oleh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara, melalui Bidang Pelestarian Ukir Roni Satrya juga menilai, ukiran Jepara saat ini secara rata-rata masih belum berkembang.
Desainnya stagnan. Perkembangannya juga lambat. "Kebanyakan pandai bikin tapi tidak buat kreasi baru. Padahal kita butuh desain baru agar terus sesuai dengan selera pasar," kata anggota komisi I itu.
Selain Fadli Zon hadir juga anggota dewan lainnya seperti Putu Supadma Rudana (Anggota Komisi VI), Adde Rosi Khoerunnisa (Anggota Komisi III), Arzeti Bilbina (Anggota Komisi IX), Hasani Bin Zubair (Anggota Komisi VIII), serta Syahrul Aidi Maazat (Anggota Komisi V) dan Gilang Dhiela Fararez (Anggota Komisi III).
Editor : Meitika Candra Lantiva