Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Toleransi Tak Sebatas Agama Saja, Pemkot Magelang Berupaya Tingkatkan Indeks Kota Toleran

Naila Nihayah • Selasa, 22 Agustus 2023 | 04:13 WIB
DIALOG: Wali Kota Magelang Muchamad Nur Aziz menyapa para siswa di Sekolah Bhakti Tunas Harapan (SBTH) Kota Magelang, Senin (21/8). (Naila Nihayah/Radar Jogja)
DIALOG: Wali Kota Magelang Muchamad Nur Aziz menyapa para siswa di Sekolah Bhakti Tunas Harapan (SBTH) Kota Magelang, Senin (21/8). (Naila Nihayah/Radar Jogja)
 

MAGELANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang terus berupaya agar Indeks Kota Toleran (IKT) tahun ini lebih meningkat. Termasuk menanamkan nilai-nilai toleransi kepada para siswa, dari jenjang SD hingga SMA. Lebih-lebih, toleransi sebetulnya tidak hanya sebatas agama saja, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Wali Kota Magelang Muchamad Nur Aziz mengatakan, membangun bangsa tidak hanya difokuskan pada satu golongan saja. Tapi, seluruh golongan dan saling toleransi.
 
"Inilah pentingnya memaknai toleransi di masyarakat. Karena toleransi tidak hanya sebatas pada agama saja, tapi juga kehidupan sosial," ujarnya, Senin (21/8).
 
Baca Juga: Karnaval Budaya Bikin Takjub, Arus Lalin Jogja-Magelang Tersendat

Sejak awal, kata dia, pemkot dengan program-program unggulannya memang mengarahkan pada sikap saling toleransi terhadap sesama. Termasuk Program Magelang Agamis (Programis) dan pembentukan Kampung Religi yang muaranya untuk mencapai toleransi antarumat beragama.

Menurutnya, budaya ramah dan toleransi di Kota Magelang sudah ada sejak dulu. Masing-masing warganya saling menghormati dan menghargai.
 
"Kota Magelang kalau mau semakin baik dan sejahtera, ya toleransi harus diwujudkan. Kalau tidak, ya tidak bisa. Semua harus berprasangka baik," paparnya.
 
Baca Juga: Di Magelang Tiap Jumat Anak-Anak Minum Susu

Dengan demikian, kualitas peningkatan beragama di wilayahnya harus semakin baik. Karena, lanjut dia, semakin patuh terhadap agama masing-masing, paham radikalisme dan fanatisme tidak akan terjadi.

Salah satunya keberadaan Sekolah Bhakti Tunas Harapan (SBTH) Kota Magelang. Aziz menilai, SBTH sudah menerapkan moderasi beragama. Siswa-siswinya beragam dan semua agama terfasilitasi dengan baik.
 
"Ini pembelajaran yang bagus bagaimana menggambarkan toleransi," katanya.


Sementara itu, Ketua Satgas Kota Toleran Kota Magelang Catur Adi Subagyo mengutarakan, beberapa hal yang dianggap sebagai pemicu menurunnya IKT di wilayahnya, perlahan tereliminasi dengan sendirinya.
 
 
"Artinya regulasi yang kemarin dianggap intoleran, di tahun ini sudah tidak terjadi lagi," terangnya.

Dia berharap, segala regulasi yang ada, berjalan dengan harmoni. Hal itu praktis dapat menjadi nilai tambah untuk meningkatkan IKT di Kota Magelang. Termasuk adanya Kampung Religi yang dapat membentuk kepribadian warganya untuk saling menjaga.
 
Kepala SBTH Kota Magelang Gerardus Edi Prasetyo memaparkan, sekolah memberikan fasilitas bagi semua agama yang dianut oleh siswa, guru, dan sivitas akademika. Fasilitas pendidikan sampai beribadah.
 
 
Bahkan, setiap perayaan hari besar agama semua civitas akademika turut merayakan. Ini agar setiap siswa memahami dan menghormati agama yang dianut oleh siswa lainnya.
 
"Setiap agama difasilitasi. Kalau Ramadan kami ada kegiatan bagi-bagi takjil dan halal bi halal. Lalu Natal, Waisak, Tahun Baru Imlek, dan lainnya. Selain itu, kami juga ajarkan sejarah kebudayaan misalnya dengan wayang potehi, sejarah kue bulan (mooncake) dan sebagainya," terang Edi. (aya) 
Editor : Amin Surachmad
#indeks kota toleran #Paham Radikalisme #Kampung Religi