RADAR JOGJA - Program studi (Prodi) Pembangunan Sosial STPMD "APMD" Yogyakarta bersama Koperasi Darmowarih Tirtolestari berupaya untuk mengawal gagasan baru konservasi air berbasis masyarakat. Hal tersebut diwujudkan pada kolaborasi tindakan strategis yang berkelanjutan untuk menciptakan green energy.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institusi, STPMD "APMD" Yogyakarta Aulia Widya Sakina berharap, kolaborasi ini nantinya bisa dilakukan secara kontinyu. Agar apa yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Magelang bisa menjadi percontohan bagi daerah lain.
Hal ini juga dilakukan untuk mendorong eksistensi keberadaan modal sosial masyarakat. Serta sebagai solusi untuk mengatasi persoalan keberlangsungan sumber daya air. Keluarannya, kata dia, akan mengawal pembentukan Sekolah Masyarakat Konservasi.
Dia menambahkan, kolaborasi ini tidam hanya dengan koperasi saja, tapi juga beberapa stakeholder di Kabupaten Magelang. "Agar bisa menjadi wadah bagi aksi-aksi pengelolaan sumber daya air di Kawasan DAS Progo secara berkelanjutan," ujarnya di Dusun Kuwiran, Tamanagung, Jumat (28/7/23).
Ketua Prodi Pembangunan Sosial STPMD "APMD" Yogyakarta MC Candra Rusmala Dibyorini mengatakan, kolaborasi ini menjadi bentuk nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sehingga keberadaan perguruan tinggi dapat berperan mengatasi persoalan yang ada di masyarakat.
Dia menjelaskan, pemilihan isu mengenai lingkungan, khususnya soal air karena selaras dengan beberapa permasalahan di masyarakat. Apalagi sekarang sumber daya air bersih semakin langka. "Banyak terjadi pencemaran air dimana-mana, termasuk di Kabupaten Magelang," paparnya.
Di Kabupaten Magelang, lanjut dia, ada beberapa titik yang berpotensi terjadi pencemaran air. Utamanya di kawasan penambangan pasir lereng Gunung Merapi. Aktivitas tersebut dikhawatirkan dapat merusak sumber daya air di Sungai Tlingsing.
Candra mengakui, tantangan untuk menghadapi konflik-konflik tersebut tidaklah mudah. "Harapannya, ketika kami dan para stakeholder dapat berkumpul, ada titik temu dan tindak lanjut bersama mengatasi hal itu," bebernya.
Pendiri Koperasi Darmowarih Tirtolestari Bambang Heri Subrastawa menyebut, kolaborasi ini secara tidak langsung menjadi upaya mitigasi terhadap adaptasi pengelolaan air. "Sehingga dapat mendorong pembangunan yang berkelanjutan," sebutnya.
Dia mengatakan, Kabupaten Magelang ini sebetulnya kaya akan air, apalagi ada Sungai Progo. Namun, pelestariannya belum begitu maksimal. Ruang-ruang seperti ini, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk harmonisasi. "Harapannya, pemikiran antara pemerintah daerah dan masyarakat soal lingkungan dan sumber daya air bisa nyambung," imbuhnya.
Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, BPBD Kabupaten Magelang Teguh Hardiyono mengutarakan, upaya-upaya pengelolaan sumber daya air yang bersifat konservasi memang sudah dilakukan. Namun, belum berjalan dengan maksimal. Sehingga kolaborasi ini harus berkelanjutan.
Menurutnya, upaya yang dilakukan oleh Prodi Pembangunan Sosial STPMD "APMD" Yogyakarta merupakan satu bentuk mitigasi. "Yang mana nantinya bermuara pada kesejahteraan masyarakat dan cakupan sumber daya air di Kabupaten Magelang dapat terpenuhi," katanya. (aya/pra)