RADAR JOGJA - Eksotisme dan keindahan kepulauan Karimunjawa di Jepara, Jawa Tengah, tak bisa diragukan lagi. Pantai berpasir putih dengan air yang sangat jernih bak kristal. Saking jernihnya, terumbu karang nan cantik bisa terlihat meski hanya di dermaga maupun di atas kapal.
Belum lagi saat senja datang, cahaya emas nan elok memantulkan keindahan yang luar biasa di perairan yang luas. Sementara wajah terkena angin laut yang sejuk, menambah kedamaian.
Pemandangan yang eksotis itu rugi apabila dilewatkan. Sayangnya, aksesibilitas menuju kepulauan itu masih terbatas. Saat ini wisatawan hanya bisa menggunakan kapal untuk menyeberang, dari Jepara atau Semarang.
Karimunjawa termasuk dalam salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Termasuk dalam destinasi pariwisata prioritas, dalam kewenangan koordinatif dari Badan Otorita Borobudur (BOB).
Direktur Utama BOB Agustin Peranginangin mengatakan, sudah ada bandara di Karimunjawa. Tepatnya, di Pulau Kemujan yang ada di sisi timur laut pulau besar Karimunjawa. Namun, belum beroperasi lagi sejak pandemi.
"Karimunjawa, kalau akses di sana sebenarnya sudah ada bandaranya Dewandaru, sudah ada terminal penumpang. Hanya saja 2020 kemarin Covid-19, bandara belum beroperasional penuh, dalam arti kata penerbangan reguler belum ada," jelasnya belum lama ini.
Angin, panggilannya, mengatakan, Bandara Dewandaru beroperasi pada 2018. Pada saat itu, sempat ada beberapa kali penerbangan dari Semarang setiap harinya. Jarak tempuhnya sekitar 30 menit. Kondisi Covid-19 melemahkan sektor pariwisata sehingga bandara ikut terdampak.
"Tantangan di sana memang akses. Ini tantangan sekaligus peluang. Tantangan untuk memastikan ada konektivitas, peluang dalam arti kata inilah kesempatan kita menjaga limitasi eksploitasi Karimunjawa," jelasnya.
Meski begitu, Angin mendorong agar konektivitas dan aksesibilitas menuju Karimunjawa dapat segera digodog. Bersamaan dengan itu, infrastruktur dan konsep pariwisata mengedepankan kualitas bisa disempurnakan.
"Konektivitas dari pulau Jawa tidak hanya Semarang tapi bisa Jogja atau solo dengan waktu tempuh 60-70 menit. Kalau ada penerbangan Jogja atau solo kami berkeyakinan quality tourism bisa dipamerkan," jelasnya.
Quality tourism yang dimaksud Angin ialah wisatawan yang datang ke Jogja dan Solo, dimanjakan dengan wisata budaya dan sejarah yang kuat. Lalu, dilanjutkan dengan wisata bahari ke Karimunjawa. Paket ini bisa sangat potensial, lama tinggal wisatawan akan bertambah.
"Di mana Jawa kuat dengan wisata budaya, mereka bisa ke wisata baharinya ke Karimunjawa," imbuhnya.
Lebih lanjut, Angin menyebut tantangan lainnya. Terkait belum adanya transportasi publik di Karimunjawa. Menurutnya, kontur tanah di kawasan Karimunjawa cocok untuk angkutan berbasis listrik yang ramah lingkungan.
Apalagi, sumber energi baru terbarukan melimpah di Karimunjawa. Tak kurang-kurang energi matahari dan angin yang dapat dioptimalkan dan disulap menjadi energi ramah lingkungan.
"Punya peluang dikembangkan angkutan berbasis listrik karena tidak ada perbukitan tapi mimpi jangka panjang," imbuhnya.
Seorang wisatawan, Imam Sanjaya, berharap bandara Dewandaru bisa segera dibuka. Sehingga dia bisa mengulangi trip ke Karimunjawa yang dirasa belum habis di-explore.
"Saya sebenarnya dari Jakarta, ada tugas ke Jogja. Lalu weekend saya putuskan ke Karimunjawa via Jepara. Otw-nya ternyata lama, waktu habis. Andai ada penerbangan. Meskipun sangat worthy, ya, luar biasa pemandangan di Karimunjawa," jelasnya. (lan)
Editor : Amin Surachmad