Seorang warga Sofiyatun, 54, menyampaikan, satu box atau papan seberat 2 kg telur dia beli dengan harga Rp 62 ribu. Setiap box tersebut rata-rata berisi 30 butir telur. Ini artinya sebutir telur dihargai Rp 2 ribu. “Turun emang, tapi jatuhnya tetap mahal. Kecuali belanja banyak sekalian mungkin selisih sedikit,” jelasnya, Kamis (8/9).
Pengusaha roti ini bersyukur harga telur terus mengalami penurunan. Soalnya jika harga terus bertahan tinggi akan mempengaruhi jumlah produksinya. Dia juga mengungkapkan masih ada sebagian warung kelontong belum mengikuti harga terbaru. Bahkan, dua hari lalu dia sempat membeli telur eceran seharga Rp 34 ribu per kg. “Kemarin saya beli karena kebutuhan kurang. Pas dilayani kaget ada harga segitu. Misal Rp 34 ribu, sebutir Rp 2 ribu lebih,” ucapnya.
Sofiyatun menambahkan, fluktuasi harga telur ayam ras sekarang menyentuh harga tertinggi dalam rentang beberapa tahun terakhir. Kondisi itu tentu mempengaruhi banyak hal, termasuk dirinya dalam menyesuaikan harga roti ke pembeli. “Masa mau rugi, ya tidak lah. Naik sedikit biar pelanggan tidak kabur, itupun untungnya mereka memahami,” kata warga Desa Karangasari, Kebumen ini.
Sementara itu, pedagang sembako Pasar Tumenggungan Ali Mastur mengatakan, harga telur ayam ras mengalami penurunan menjadi Rp 30 ribu per kg. Harga tersebut turun dari sebelumnya Rp 32 ribu per kg. “Dari sales turun kita ya ikut. Sebelum naik itu sekitar Rp 25 ribu,” terangnya.
Sejauh ini, kata Ali, pasokan telur dari pengepul terbilang lancar di tengah kenaikan harga BBM bersubsidi. Adapun komoditas kebutuhan pangan yang mengalami kenaikan harga cukup drastis meliputi cabai, bawang dan kacang. “Saya lihat sih belum ada pengaruh. Mungkin ya bisa naik juga, karena sekarang habisin stok lama. Paling mahal sekarang cabai,” ucapnya. (fid/pra) Editor : Editor Content