Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kalau Harga Tetap Ukuran yang Dikurangi, Produsen Tempe di Magelang Siasati Kenaikan Harga Kedelai dan Plastik

Naila Nihayah • Selasa, 7 April 2026 | 20:02 WIB
Ukuran tempe yang diproduksi Samsuri mengecil karena efek naiknya harga kedelai dan plastik.
Ukuran tempe yang diproduksi Samsuri mengecil karena efek naiknya harga kedelai dan plastik.

 

 

 

 

MAGELANG - Lonjakan harga bahan baku dan penunjang produksi memaksa pelaku usaha tempe di Kota Magelang memutar strategi. Alih-alih menaikkan harga jual, produsen memilih mengecilkan ukuran tempe demi menjaga daya beli pasar yang sudah terbentuk.

Pemilik pabrik tempe di Kota Magelang, Samsuri mengaku, terpaksa mengecilkan ukuran tempe yang dijualnya sebagai langkah bertahan. "Kalau harga tetap, ya ukurannya yang dikurangi," ujar dia di pabriknya, Selasa (7/4).

Samsuri menjelaskan, sebelumnya satu potong tempe yang dijual ke pasar memiliki berat sekitar satu kilogram (kg). Kini, beratnya berkurang menjadi sekitar sembilan ons.

Baca Juga: Viral ! Terancam Gagal Panen, Sebanyak 600 Pohon Pisang Diduga Disuntik Racun Oknum Iri Dengki, Perempuan Curhat di Medsos

Meski demikian, harga jual tidak berubah. Tempe yang sebelumnya dijual Rp 60 ribu per batang dengan panjang sekitar dua meter, kini tetap dipasarkan dengan harga yang sama. Tetapi volumenya lebih kecil.

Strategi ini, kata dia, dipilih untuk menjaga pelanggan tetap membeli, di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. "Kalau dinaikkan harganya kasihan pembeli. Jadi, ya, volumenya saja yang dikurangi sedikit," lontarnya.

Samsuri menegaskan, kenaikan harga kedelai menjadi faktor utama. Saat ini, harga kedelai berada di kisaran Rp 11 ribu per kg. Naik dari sebelumnya Rp 9.200, bahkan sempat di angka Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu per kg.

Baca Juga: Listrik Masuk Sawah hingga Bantuan Sumur Pantek Bakal Disalurkan untuk Produktivitas Tanaman Pangan di Kulon Progo

Kedelai yang digunakan sebagian besar merupakan kedelai impor, yang harganya sangat dipengaruhi kondisi global. Samsuri biasanya membeli dalam jumlah besar, hingga satu truk sekitar sembilan ton per bulan, untuk menekan biaya dibandingkan membeli eceran.

 Dalam sekali produksi, ia membutuhkan sekitar 3,5 hingga 4 kuintal kedelai, tergantung permintaan pasar. "Kalau beli (kedelai) sedikit bisa lebih mahal lagi, bahkan sampai Rp 12 ribuan," bebernya.

Selain kedelai, kenaikan signifikan juga terjadi pada plastik sebagai bahan pembungkus. Harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp 25 ribu per kg kini melonjak menjadi Rp 55 ribu.

Baca Juga: Tujuh Hari Pencarian, Korban Hanyut di Sungai Kreteg Kebumen Ditemukan dalam Kondisi Meninggal

Tidak hanya itu, biaya produksi juga terdampak kenaikan harga kayu bakar yang digunakan untuk proses perebusan kedelai. Samsuri menyebut, kenaikan harga ini mulai terasa menjelang Lebaran, setelah sebelumnya relatif stabil saat awal Ramadan.

Meski tetap berproduksi, Samsuri mengakui, pendapatannya menurun. Jika sebelumnya dia bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 10 ribu per satuan produksi tertentu, kini hanya sekitar Rp 5 ribu.

Penurunan margin ini, lanjut dia, menjadi konsekuensi dari pilihan untuk tidak menaikkan harga jual. "Yang jelas penghasilan berkurang," tegasnya.

Di pasar, tempe tersebut kemudian dipotong menjadi berbagai ukuran dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 10 ribu per potong, menyesuaikan daya beli masyarakat. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
produsen tempe tempe Kedelai Impor magealng plastik