JAKARTA - Bayangkan langit yang biasanya dipenuhi awan gelap menjelang musim hujan, kini tampak cerah terlalu lama. Itulah bayangan yang mulai terasa di banyak wilayah Indonesia saat ini. Bukan sekadar El Niño biasa yang datang silih berganti setiap beberapa tahun. Kali ini, para ilmuwan menyebutnya Super El Niño.
Menurut analisis terbaru Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) per awal Oktober 2026, fase El Niño Advisory sudah aktif dengan probabilitas mencapai 90 persen. Fenomena ini diperkirakan bertahan setidaknya hingga Januari 2027. Angka itu bukan main-main. Artinya, hampir pasti kita akan merasakan dampaknya dalam beberapa bulan ke depan.
Yang membuat fenomena ini istimewa adalah deteksi NOAA tentang Subsurface Heat Surging. Di kedalaman laut tertentu di Samudra Pasifik, suhu air melonjak hingga 10 derajat Celsius di atas normal. Panas tersembunyi itu bagaikan reservoir energi raksasa yang terus mendorong El Niño semakin kuat.
Ironisnya, di perairan Indonesia justru terjadi sebaliknya. Suhu permukaan laut di wilayah kita cenderung mendingin. Kondisi ini memicu hilangnya awan hujan secara masif. Awan yang biasanya terbentuk dan membawa hujan ke daratan kini sulit berkembang. Akibatnya, musim hujan yang dinanti-nanti mengalami kemunduran.
Bukan hanya mundur. Musim hujan diperkirakan lebih ekstrem, lebih singkat, dan tidak merata. Beberapa daerah mungkin hanya mendapat hujan sebentar, lalu kembali kering. Sementara wilayah lain bisa mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Petani yang biasa menanam padi di musim hujan harus mulai memikirkan strategi baru.
Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat. Lahan-lahan kering yang sudah rentan akan semakin mudah terbakar. Asap yang sempat kita alami di tahun-tahun sebelumnya bisa kembali menghantui. Masyarakat di Sumatera dan Kalimantan, terutama, perlu meningkatkan kewaspadaan.
Bagi masyarakat umum, ini saatnya mulai menabung air. Tangki penampungan air hujan, sumur resapan, dan pengelolaan air rumah tangga menjadi lebih penting dari sebelumnya. Pemerintah daerah pun diharapkan mulai menyiapkan langkah mitigasi sejak dini, mulai dari stok pangan hingga sistem peringatan dini kekeringan.
Super El Niño ini bukan sekadar berita ilmiah di layar ponsel. Ia menyentuh dapur rumah tangga, sawah petani, hingga kesehatan anak-anak yang rentan terpapar asap. Kita sudah melihat bagaimana El Niño sebelumnya mengubah pola hidup banyak orang. Kali ini, skalanya berpotensi lebih besar.
Namun, ada juga sisi positif yang bisa diambil. Kesadaran kolektif tentang perubahan iklim semakin dibutuhkan. Setiap langkah kecil, seperti hemat air dan menjaga lahan residual, bisa membantu mengurangi dampak. Kita tidak bisa menghentikan El Niño, tetapi kita bisa mempersiapkan diri lebih baik.
NOAA akan terus memantau perkembangan fenomena ini. Update berikutnya dijadwalkan dalam beberapa minggu ke depan. Sementara itu, masyarakat Indonesia diajak untuk tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG dan lembaga terkait. Jangan sampai kita terkejut ketika musim hujan yang dinanti tak kunjung datang.
Pada akhirnya, Super El Niño ini mengingatkan kita bahwa bumi sedang berbicara. Ia menyampaikan pesan lewat suhu laut yang berubah dan awan yang menghilang. Apakah kita siap mendengarkan dan bertindak?
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber